
RADAR BATU - Pembangunan fisik Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, hampir rampung. Progres bangunan telah mencapai 90 persen. Koperasi mulai menjalankan usaha budi daya lele dan menyiapkan sejumlah layanan ekonomi bagi warga.
Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Desa Bulukerto Bayu Bagus Aditya mengatakan, salah satu usaha yang telah berjalan adalah budi daya lele. Usaha tersebut terdiri atas tiga hanggar dengan 24 kolam. Setiap kolam diisi sekitar 2.000 ekor ikan.
“Awal-awal hanya seratus lele,” katanya. Operasional budi daya ditangani empat pengurus KDMP. Mereka bertugas merawat ikan hingga menjual hasil panen. Namun, keuntungan yang diperoleh belum disetorkan kepada desa. Laba masih diputar sebagai modal untuk mengembangkan usaha.
Salah satu produk yang telah dipasarkan adalah lele marinasi. Produk tersebut dijual Rp 15 ribu per kemasan berisi lima potong. Selain budi daya lele, KDMP juga bekerja sama dengan produsen air minum dalam kemasan untuk mendistribusikan produk kepada warga.
Ke depan, koperasi menyiapkan tiga unit layanan baru. Yakni swalayan sembako, swalayan buah dan sayur, serta apotek. Produk buah dan sayur direncanakan berasal dari petani desa. Pengembangan tiga unit usaha itu diperkirakan butuh tambahan 3-4 tenaga kerja.
“Kesempatan kerja itu akan diprioritaskan bagi warga sekitar. Biar anak muda yang nganggur bisa terserap,” paparnya. Saat ini, kendala masih terdapat pada bangunan penyimpanan yang belum selesai.
Untuk sementara, aktivitas penyimpanan memanfaatkan bangunan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang belum digunakan. Dari sisi kepengurusan, struktur KDMP baru terdiri atas ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara.
“Posisi manajer belum terisi. Soalnya manager pasti bukan orang sini,” bebernya. Pembangunan fisik KDMP dimulai awal 2026. Dengan progres mencapai 90 persen, Bayu memperkirakan bangunan dapat diresmikan pada akhir tahun.
Meski usaha koperasi sudah berjalan, Pemerintah Desa Bulukerto belum menarik keuntungan sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes). Kebijakan serupa juga diterapkan pada sejumlah usaha desa lain.
Kepala Desa Bulukerto Suhermawan mengatakan, keuntungan sementara dipertahankan sebagai modal agar usaha lebih cepat berkembang. “Menunggu usaha sampai mapan,” katanya.


