Rupiah Melemah ke Rp18.177 per Dolar AS, Harga Sembako Bakal Ikut Naik?

BATU, RADAR BATU - Nilai tukar rupiah yang melemah hingga kisaran Rp18.177 per dolar Amerika Serikat (AS) menimbulkan kekhawatiran terhadap harga kebutuhan pokok. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya impor bahan pangan dan bahan baku yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp18.177 per dolar AS pada 28 Oktober 2026. Posisi tersebut melemah sekitar 0,99 persen dibandingkan akhir September 2026.
Bahan sembako yang rentan terdampak
Salah satu komoditas yang rentan terdampak adalah kedelai, bahan baku utama tahu dan tempe. Ketika rupiah melemah, importir membutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli kedelai dengan nilai dolar yang sama.
Selain kedelai, gandum untuk produksi mi dan roti juga berpotensi mengalami tekanan biaya. Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan gandum, sehingga perubahan nilai tukar dapat memengaruhi biaya bahan baku industri makanan.
Dampak serupa dapat terjadi pada komoditas lain yang menggunakan bahan baku impor, termasuk sebagian bahan pakan ternak. Namun, pengaruhnya terhadap harga telur, daging ayam, dan produk pangan lainnya bergantung pada biaya produksi, pasokan, serta kondisi distribusi.
Meski demikian, pelemahan rupiah tidak otomatis membuat seluruh harga sembako naik. Harga beras, sayuran, cabai, dan sejumlah pangan lokal juga dipengaruhi oleh hasil panen, cuaca, ketersediaan stok, serta kelancaran distribusi.
Jika tekanan kurs berlangsung lama dan biaya impor meningkat, produsen maupun pedagang berpotensi menyesuaikan harga jual. Masyarakat pun perlu mencermati perkembangan harga kebutuhan pokok, sementara pemerintah perlu menjaga pasokan dan stabilitas harga agar daya beli tetap terjaga.



