
BATU, RADAR BATU - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah dibuka di level Rp18.035 per dolar AS, turun 0,07 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp18.022 per dolar AS.
Mengutip laporan Warta Ekonomi, pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan pasar keuangan global dan ketidakpastian yang memengaruhi pergerakan investor.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya menyebut sejumlah faktor yang membayangi nilai tukar rupiah, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang ketat, hingga sentimen investor asing di pasar saham domestik.
Baca Juga: Prabowo Belum Tetapkan Karhutla Jadi Bencana Nasional, Ini Alasannya
Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang memunculkan kekhawatiran mengenai klasifikasi pasar saham Indonesia. Ketidakpastian tersebut berpotensi memengaruhi arus modal asing.
Di tengah tekanan tersebut, BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026. BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5 persen dan mempertahankan Lending Facility di level 6,50 persen.
BI menyatakan akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk melalui intervensi di pasar valuta asing dan penguatan insentif bagi instrumen lindung nilai.
Pelemahan rupiah perlu dicermati karena perubahan nilai tukar dapat memengaruhi biaya impor, terutama untuk barang dan bahan baku yang dibeli menggunakan dolar AS. Dampaknya terhadap harga barang di dalam negeri bergantung pada berbagai faktor, termasuk biaya produksi, stok, dan kebijakan harga pelaku usaha.
Baca Juga: El Nino Diprediksi Berlangsung hingga 2027, Ini Dampak dan Langkah Antisipasi Menghadapi El Nino
Karena itu, perkembangan kurs rupiah dan langkah stabilisasi BI masih menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan.

