BATU – Ribuan warga memadati ruas Jalan Gajah Mada dan Jalan Panglima Sudirman Kota Batu kemarin (3/8). Mereka menyaksikan beberapa seniman mancanegara menampilkan kesenian bantengan. Para bule itu dari Malaysia, Kolombia, India, Jepang, Chili, Australia, dan Hongkong.
Seniman dari tujuh negara tersebut membaur bersama seniman lokal dari 135 paguyuban bantengan. Pertunjukan diberangkatkan dari Stadion Gelora Brantas sekitar pukul 09.00, kemudian menyusuri beberapa ruas jalan.
Seorang seniman asal Australia Tony Yap mengaku sudah mengikuti event tersebut sejak pertama diluncurkan pada 2008 lalu. Tahun ini merupakan ke-17 kalinya dia tampil dalam gelaran Bantengan Nuswantara. “I really interested about trance, especially in this performance. Because that’s the energy for this community,” ungkap Tony.
Dia mengatakan tak butuh waktu lama untuk mempelajari seni bantengan. Tony bersama seniman luar negeri yang lain lebih banyak menggunakan improvisasi dalam menampilkan pertunjukan. Menurutnya, itu dapat memberikan warna baru dalam pertunjukan. “But, it feels so amazed. Because when i performed 17 years ago, i met they get older and still like bantengan,” imbuh seorang dancer sekaligus koreografer internasional itu.
Lebih lanjut, Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Onny Ardianto mengungkapkan, peminat event Bantengan Nuswantara berkembang pesat dari tahun ke tahun. Tak pelak, jika kesenian tersebut telah dinobatkan sebagai warisan budaya tak terhingga. “Bahkan seni bantengan juga telah dikenalkan dalam Osaka World Expo 2025,” beber Mantan kepala diskominfo itu.
Dengan bergulirnya event rutin tahunan tersebut, Onny berharap seni bantengan semakin diminati. Terlebih di tengah era modernisasi seperti saat ini tak memudarkan filosofi khas Kota Batu tersebut.
Tak hanya sebagai hiburan masyarakat, dia melanjutkan, pertunjukan seni tersebut dapat menjadi sarana silaturahmi seniman bantengan di Jawa Timur. Utamanya dalam mendongkrak angka kunjungan wisatawan. "Terbukti, acara Bantengan Nuswantara tersebut selalu ditunggu-tunggu setiap tahun," pungkasnya. (ori/dan)
Editor : A. Nugroho