
PLN Soroti Risiko Teknis, Provider Tunggu Kepastian Tarif Sewa
BATU, RADAR BATU - Biaya konstruksi hingga kepastian tarif sewa menjadi tantangan dalam rencana penataan kabel udara ke sistem ducting atau tanam bawah tanah. Meski mendukung pembenahan estetika kota, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan pelaku usaha telekomunikasi mengingatkan pentingnya perhitungan pembiayaan yang berpotensi melonjak puluhan kali lipat.
Selain itu, perhitungan teknis dan skema bisnis juga perlu dibahas bersama sebelum proyek direalisasikan. Peralihan kabel udara ke bawah tanah bukan sekadar memindahkan jaringan. Prosesnya membutuhkan infrastruktur yang memadai, koordinasi antarpengelola utilitas, serta skema pemeliharaan yang jelas. Tanpa perencanaan matang, biaya investasi bisa membengkak dan gangguan layanan berpotensi lebih sulit ditangani.
Baca Juga: Carmen Hearts2Hearts Gunakan Seragam SMA Indonesia Miliknya di Acara Talk Show Korea Buatan Mnet
Asisten Manajer Jaringan Distribusi PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Malang Vandy Faizal Putra mengaku secara prinsip mendukung program penanaman kabel yang digagas Pemkot Batu. “Secara fungsional, memang kabel tanam ini memiliki tingkat keandalan yang lebih tinggi,” ujarnya.
Jaringan udara, seperti Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) dan Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR), lebih rentan terhadap gangguan eksternal. Namun, kesiapan PLN untuk mendukung program tersebut bergantung pada kepastian desain teknis di lapangan. Salah satu persoalan mendasar ialah bentuk infrastruktur yang akan dibangun.
Baca Juga: Prediksi Cuaca Kota Batu 29 Oktober: Berkabut Sejak Dini Hari dan Suhu Tertinggi 24 Derajat
Menurutnya, Pemkot Batu perlu memastikan apakah ducting disiapkan sebagai jalur terpadu yang dapat digunakan bersama oleh berbagai penyedia utilitas atau setiap instansi harus membangun jalurnya sendiri. Sinkronisasi tata ruang, terutama yang berkaitan dengan Daerah Milik Jalan (Damija), juga perlu diperjelas.
Begitu pula desain migrasi kabel, termasuk kemungkinan jaringan tegangan rendah. Selain itu, sambungan rumah masih menggunakan tiang seperti yang diterapkan di sejumlah wilayah juga perlu diperhatikan. “Apakah nanti seperti di Jakarta, kabel tegangan rendah dan sambungan rumah masih dibiarkan menggunakan tiang atau seperti apa,” imbuhnya.
Baca Juga: Jadwal Salat Kota Batu 29 Oktober 2026
Tantangan terbesar berikutnya ialah biaya investasi. Vandy menyebut, biaya mengubah jaringan udara menjadi kabel bawah tanah dapat meningkat berkali-kali lipat. Bahkan, mencapai puluhan kali dibandingkan pembangunan jaringan udara konvensional. Biaya itu berpotensi semakin tinggi apabila kondisi lapangan tidak memungkinkan penggalian manual.
Pelaksana proyek bisa harus menggunakan metode pengeboran horizontal yang membutuhkan peralatan khusus dan biaya lebih besar. Persoalan tidak berhenti setelah konstruksi selesai. Pemeliharaan dan penanganan gangguan atau troubleshooting pada jaringan bawah tanah juga lebih rumit dibandingkan kabel udara.
Pada jaringan konvensional, petugas relatif mudah mengidentifikasi kerusakan melalui pemeriksaan visual. Sebaliknya, gangguan pada kabel tanam membutuhkan investigasi untuk menemukan titik kerusakan secara presisi. Kondisi itu dapat memperpanjang waktu perbaikan, terutama jika sistem ducting tidak terintegrasi dengan baik.
