Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hama Thrips Ancam Kualitas Bunga Potong di Kota Batu

R
MASIH PRODUKTIF: Sejumlah petani melakukan penyortiran bunga di kawasan Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
MASIH PRODUKTIF: Sejumlah petani melakukan penyortiran bunga di kawasan Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

Advertisement

BUMIAJI, RADAR BATU - Petani bunga potong di Kota Batu menghadapi tantangan ganda di tengah tingginya permintaan pasar. Kemarau panjang membatasi pasokan air irigasi. Panas ekstrem juga sekaligus meningkatkan risiko serangan hama thrips yang merusak kualitas bunga.

Koordinator Pemasok Bunga Potong Kota Batu Jumadi mengatakan, kondisi cuaca sangat memengaruhi kualitas fisik bunga yang siap dipasarkan ke berbagai daerah. Salah satu gangguan yang banyak dikeluhkan petani ialah serangan thrips.

Advertisement

“Hama tersebut berukuran kecil seperti kutu yang merusak bagian tanaman. Bekas serangannya bikin kelopak bunga ada bercak cokelat gitu,” jelasnya. Serangan hama tersebut tidak hanya terjadi pada tanaman hias.

Thrips juga ditemukan pada berbagai komoditas pertanian di kawasan dataran tinggi. Meski obat kimia pembasmi hama tersedia di pasaran, penggunaannya terkendala keterbatasan air.

Menurut Jumadi, petani yang memiliki sistem irigasi teknis lebih mudah mengendalikan serangan hama dengan menggenangi lahan dan menyemprotkan obat pembasmi.

Sebaliknya, petani yang mengandalkan lahan kering menghadapi kesulitan karena air untuk perawatan tanaman semakin terbatas. Kondisi itu diperparah penurunan debit air dari Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) desa.

Pengelola harus memprioritaskan pasokan untuk kebutuhan rumah tangga. Hal itu membuta kebutuhan irigasi kebun belum bisa terpenuhi secara optimal. “Jadi mau nggak mau di kebun dibiarkan, pokoknya hidup dulu aja. Dimaksimalkan dan tetap berusaha,” paparnya.

Jumadi juga merasakan perbedaan pola cuaca dibandingkan tahun lalu. Pada Agustus hingga September tahun sebelumnya, hujan masih kerap turun. Sementara tahun ini, kemarau berlangsung lebih panjang tanpa curah hujan yang berarti.

Dampaknya turut dirasakan pemasok bunga potong lainnya, Yulia asal Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Menurut dia, kekurangan air membuat ukuran bunga mengecil. Padahal permintaan dari luar daerah sedang tinggi.

“Kekurangan air bikin bunganya tidak besar dan cenderung kecil. Padahal, permintaan dari luar daerah lagi besar-besarnya,” ungkapnya. Kondisi tersebut menempatkan petani pada posisi sulit.

Advertisement

Artikel Terkait

Ulat Grayak Dongkrak Biaya Perawatan Daun Bawang di Kota Batu

Ulat Grayak Dongkrak Biaya Perawatan Daun Bawang di Kota Batu

Serangan ulat grayak tingkatkan biaya perawatan petani daun bawang di Kota Batu.

Serangan Cabuk Merah di Kota Batu Naik 50 Persen Saat Kemarau

Serangan Cabuk Merah di Kota Batu Naik 50 Persen Saat Kemarau

Serangan hama cabuk merah di perkebunan mawar Kota Batu melonjak 50%. Petani terancam gagal panen akibat penurunan produksi tanaman.

Populasi Hama Ulat di Lahan Pertanian Kota Batu Naik hingga 50 Persen

Populasi Hama Ulat di Lahan Pertanian Kota Batu Naik hingga 50 Persen

Musim kemarau meningkatkan serangan hama hingga 50%, memaksa petani hortikultura di Kota Batu lebih sering menyemprot pestisida.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer