Kafe Menjamur, Panorama Puthuk Tritih Kota Batu Terancam

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Senin, 2 November 2026 | 16:00 WIB
MAKIN MENJAMUR: Sejumlah bangunan kafe semi permanen memadati kawasan Puthuk Tritih, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu beberapa hari lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
MAKIN MENJAMUR: Sejumlah bangunan kafe semi permanen memadati kawasan Puthuk Tritih, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu beberapa hari lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Panorama terbuka yang menjadi daya tarik Puthuk Tritih, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu mulai terhalang bangunan kafe dan gazebo. Sejumlah bangunan semipermanen hingga permanen bermunculan di kawasan yang belakangan viral sebagai lokasi menikmati senja tersebut. Selain persoalan legalitas, alih fungsi lahan pertanian itu mulai dikeluhkan karena mengurangi keindahan lanskap alam.

Kepala Desa Sumberejo Riyanto mengatakan, sebagian lahan pertanian kini disewakan pemiliknya kepada pengelola dari luar daerah. Tawaran keuntungan yang lebih besar dibandingkan hasil pertanian menjadi salah satu alasan petani memilih menyewakan lahannya. Bahkan, beberapa pemilik lahan rela menjual tanah mereka. “Karena urusannya dengan kebutuhan, jadi sulit dikendalikan,” terangnya.

Baca Juga: Apa Itu Micro-Retirement? Tren Jeda Karier untuk Istirahat dan Mengejar Minat

Riyanto menjelaskan, sejumlah pedagang kaki lima (PKL) dan pengelola menyewa lahan petani secara pribadi. Lahan tersebut kemudian dipetak-petak untuk mendirikan kafe dan gazebo. Salah satu ketentuan yang ditekankan pengelola adalah menyediakan area parkir di dalam lahan. Tujuannya agar kendaraan pengunjung tidak mengganggu badan jalan.

Dampak pembangunan itu mulai dirasakan masyarakat dan pengunjung. Bangunan yang berdiri di sejumlah titik dinilai mengurangi panorama terbuka yang selama ini menjadi andalan Puthuk Tritih. “View yang selama ini kita banggakan, kita andalkan, sedikit banyak sudah tertutup pendirian kafe,” jelasnya.

Baca Juga: Sertifikasi Jadi Tiket Petani Batu Masuk Ritel Modern

Di sisi lain, Pemerintah Desa Sumberejo mengaku kesulitan mengendalikan perkembangan bangunan tersebut. Riyanto menyebut, lahan yang digunakan merupakan milik pribadi warga. Petani juga berdalih pendapatan dari menyewakan lahan lebih menjanjikan dibandingkan mengolahnya untuk pertanian.

Terkait perizinan, Riyanto menyatakan pihak desa belum mengeluarkan izin resmi. Sebab, pendirian bangunannya belum memiliki landasan aturan yang kuat. Meski demikian, pemdes mengaku tetap melakukan pengawasan. Dengan begitu aktivitas usaha tidak mengganggu kegiatan pertanian.

Maraknya bangunan yang dikelola pendatang dari luar daerah turut memunculkan kekhawatiran warga. Jika tidak segera ditata, kata Riyanto, kawasan yang dikenal dengan potensi agrowisata dan panorama alamnya itu dikhawatirkan kehilangan keasrian akibat ekspansi bangunan komersial. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
kota batu desa sumberejo pariwisata