Revitalisasi Songgoriti Usung Wisata Budaya, Pemkot-Jasa Yasa Siapkan Skema Bagi Hasil

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:00 WIB
KAWASAN IKONIK: Gerbang masuk menuju Songgoriti yang menjadi saksi bisu kejayaan pariwisata masa lalu. Kini publik mendesak adanya langkah konkret revitalisasi.
KAWASAN IKONIK: Gerbang masuk menuju Songgoriti yang menjadi saksi bisu kejayaan pariwisata masa lalu. Kini publik mendesak adanya langkah konkret revitalisasi.

BATU, RADAR BATU - Revitalisasi kawasan wisata Songgoriti diarahkan menjadi destinasi berbasis budaya. Situs sejarah, kuliner, seni pertunjukan, pasar tradisional, dan pemandian air panas akan diintegrasikan. Konsep tersebut tengah dimatangkan Perumda Jasa Yasa bersama Pemkot Batu. Selain desain kawasan, kedua pihak juga akan membahas skema revenue sharing sebagai pola kerja sama pengelolaan dan pembagian pendapatan.

Direktur Utama Perumda Jasa Yasa Raden Djoni Sudjatmiko mengatakan pengembangan Songgoriti tidak akan semata mengejar pembangunan wahana modern. Kekuatan utama kawasan justru berada pada jejak sejarah dan situs budaya yang telah melekat. “Arahnya dikonsep ke pariwisata berbasis budaya karena nilai historisnya sangat kuat di situ,” ujarnya.

Konsep tersebut akan diwujudkan dengan menggabungkan pusat kuliner dan ruang interaksi dengan pertunjukan seni. Jasa Yasa menyiapkan panggung terbuka yang dapat digunakan sanggar dan pelaku seni Kota Batu untuk tampil secara berkala. Dengan pola itu, wisatawan diharapkan tidak hanya datang untuk makan atau menikmati pemandian.

Baca Juga: 12,14 Persen Anak Usia SMP di Kota Batu Tak Sekolah - Radar Batu

Namun, wisatawan juga mendapatkan pengalaman budaya. Jasa Yasa berharap Pemkot Batu ikut menghidupkan ruang ekspresi tersebut melalui pembinaan sanggar seni. “Wisatawan yang menginap di berbagai hotel di Kota Batu nantinya bisa diarahkan ke sana untuk menonton pertunjukan tradisional sambil menikmati kuliner,” kata Djoni.

Penguatan kawasan juga menyasar pasar tradisional. Jasa Yasa menilai keberadaan pasar tetap penting dalam ekosistem Songgoriti karena dapat menjadi titik aktivitas ekonomi masyarakat. Bahkan, perusahaan daerah tersebut mengaku telah menyiapkan detail engineering design (DED) untuk model pasar yang akan direvitalisasi.

Menurut Djoni, keberadaan pasar, panggung budaya, dan pusat kuliner dapat saling menguatkan. Wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk tinggal lebih lama. Sementara, pelaku usaha lokal mendapat ruang ekonomi. Namun, keberhasilan konsep tersebut juga bergantung pada kepastian pola kerja sama.

Baca Juga: Mobil Damkar Terguling di Jalan Raya Oro-Oro Ombo, Empat Orang Luka Ringan - Radar Batu

Djoni menyebut opsi yang mengemuka adalah revenue sharing atau pembagian pendapatan antara pihak yang terlibat. Persentasenya belum ditentukan dan akan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan teknis. “Formulasi pembagian hasil tersebut baru akan dituangkan dalam draf teknis saat kedua belah pihak bertemu,” jelasnya.

Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto menyambut positif arah pengembangan itu. Menurut dia, revitalisasi Songgoriti juga merupakan tuntutan masyarakat. Khususnya warga sekitar yang merasakan dampak merosotnya aktivitas wisata terhadap perekonomian kawasan. Aspirasi itu sebelumnya disampaikan warga dan tokoh masyarakat kepada Pemkot Batu.

Mereka berharap kawasan yang pernah menjadi salah satu tujuan wisata utama Kota Batu itu kembali hidup. Heli mengatakan penguatan unsur sejarah juga telah dibicarakan dengan pemerintah pusat. Potensi Candi Songgoriti disebut menjadi salah satu bagian yang ingin diperkuat dalam konsep wisata budaya.

Baca Juga: 4 Tempat Wisata di Kota Batu Ini Sudah Ramah Disabilitas, Cek Faktanya - Radar Batu

“Jadi kalau ada panggung budaya dan pemandian air panas dikerjasamakan dengan Pemkot Batu, kami justru sangat senang,” katanya. Menurut Heli, pembagian manfaat kerja sama harus berdampak langsung kepada masyarakat sekitar. Revitalisasi pasar, aktivasi pemandian, dan pertunjukan budaya diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan.

Namun, terobosan itu juga bakal diandalkan untuk menggerakkan ekonomi pedagang dan pelaku usaha lokal. Terlebih, karakter kawasan wisata sering mengalami penurunan aktivitas ketika memasuki low season. Songgoriti diharapkan memiliki atraksi yang tetap mampu menarik wisatawan meski kunjungan wisata secara umum melandai.

Draf konsep budaya, desain pasar, dan formulasi bagi hasil dijadwalkan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan awal September mendatang. Pertemuan tersebut menjadi titik penting untuk menguji apakah rencana revitalisasi telah memiliki konsep bisnis sekaligus dasar kerja sama yang jelas.

Sebab, menghidupkan Songgoriti tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas baru. Nilai sejarah harus menjadi produk wisata. Aktivitas budaya harus menjadi daya tarik. Selain itu, skema bagi hasil harus memastikan kebangkitan kawasan turut dirasakan masyarakat sekitar.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Revitalisasi Songgoriti Kawasan Songgoriti songgoriti batu songgoriti revitalisasi