BATU, RADAR BATU – Dekat dengan Kota Batu, Kota Malang menyimpan banyak jejak perjuangan yang tersebar di berbagai sudut kota, mulai dari taman kota hingga permukiman warga.
Tiga di antaranya adalah Monumen Panser Anoa, Monumen Brimob Tlogowaru, dan Monumen Mayor Hamid Rusdi. Ketiganya merepresentasikan babak sejarah yang berbeda, mulai dari era perjuangan kemerdekaan hingga kebanggaan karya anak bangsa masa kini.
Monumen Panser Anoa berdiri di Taman Trunojoyo, tepat di depan Stasiun Kota Baru. Monumen ini merupakan hibah dari PT Pindad Persero yang diresmikan pada 18 Agustus 2018, bertepatan dengan momentum HUT ke-73 Kemerdekaan RI.
Baca Juga: Tujuh Situs Warisan Sejarah Kota Batu Masuk Kandidat Cagar Budaya
Kehadiran panser Anoa 6x6 di titik strategis kota ini dimaksudkan sebagai simbol kebanggaan atas karya anak bangsa sekaligus ikon wisata baru bagi warga Malang.
Bergeser ke wilayah selatan, ada Monumen Brimob yang berdiri di Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang. Monumen ini dibangun untuk mengenang peristiwa penyerangan mendadak yang dilakukan tentara Belanda secara diam-diam sebelum matahari terbit pada 10 November 1947.
Serangan tersebut menewaskan 12 anggota Mobile Brigade Besar, termasuk warga sipil, cikal bakal Korps Brimob, sementara sejumlah anggota lain mengalami luka-luka dan ditawan Belanda. Setiap menjelang Hari Pahlawan, monumen ini masih rutin dikunjungi oleh kelompok pemuda untuk kerja bakti dan mengenang jasa para pendahulu.
Monumen ketiga adalah Monumen Mayor Hamid Rusdi yang kini punya dua lokasi, yakni di Simpang Balapan dan monumen baru di Kampung Durian, Wonokoyo. Hamid Rusdi dikenal sebagai pahlawan tiga masa karena perannya melintasi era penjajahan Belanda dan Jepang hingga masa awal kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Wisata Sejarah Tersembunyi di Kota Malang, Kampung Ini Punya Museum Sendiri
Ia gugur pada 8 Maret 1949 dalam pertempuran melawan Belanda, tepat di lokasi yang kini berdiri monumen barunya. Selain dikenal sebagai pejuang gerilya, Hamid Rusdi juga diabadikan sebagai pencetus boso walikan, bahasa sandi terbalik yang kini menjadi identitas kultural Arek Malang dan Aremania.
Monumen barunya rampung dibangun pada akhir November 2025 sebagai bagian dari pengembangan kawasan wisata edukasi sejarah di Wonokoyo.
Ketiga monumen ini menunjukkan bagaimana Kota Malang merawat ingatan kolektif lewat ruang publik, mulai dari kebanggaan atas kemajuan industri pertahanan nasional, penghormatan pada jasa aparat kepolisian yang gugur, hingga jejak tokoh lokal yang mewariskan identitas budaya.
Bagi generasi muda, mengunjungi monumen-monumen ini bisa jadi cara sederhana untuk memahami bahwa sejarah kemerdekaan tidak hanya milik tokoh nasional, tetapi juga pejuang-pejuang daerah yang jarang disorot.
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari berbagai sumber