Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Wisata Sejarah Tersembunyi di Kota Malang, Kampung Ini Punya Museum Sendiri

Aqila Sahira Dewi • Rabu, 15 Juli 2026 | 10:00 WIB
Museum Reenactor Malang (Foto: Google Maps/NurmanCandra)
Museum Reenactor Malang (Foto: Google Maps/NurmanCandra)

BATU, RADAR BATU – Di tengah gempuran wisata kampung tematik, ada satu kampung di Kota Malang yang memilih jalur berbeda. Namanya Tawangsari Kampoeng Sedjarah, sebuah destinasi wisata edukasi yang mengangkat jejak perjuangan kemerdekaan Indonesia sebagai daya tarik utamanya.

Kampung ini terletak di Jalan Sumbersari Gang 4 Nomor 62, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru. Lokasinya cukup strategis karena diapit oleh tiga kampus besar, yaitu Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, dan UIN Maulana Malik Ibrahim.

Semasa Agresi Militer Belanda, kawasan Tawangsari pernah menjadi markas Komando Gerilya Kota yang dipimpin Kapten Soemitro, sosok yang belakangan menjabat Pangkopkamtib pada era Presiden Soeharto dengan pangkat jenderal.

Baca Juga: Museum Musik Dunia Jadi Wisata Favorit Pecinta Musik di Kota Batu

Yang membuat kampung ini istimewa adalah keberadaan Museum Reenactor Ngalam, museum swadaya yang digagas komunitas pencinta sejarah bernama Reenactor Ngalam.

Komunitas yang dirintis Mochamad Farid sejak 2007 ini disebut sebagai satu-satunya kampung di Indonesia yang mengelola museum secara mandiri berbasis inisiatif warga.

Perjalanan kampung ini menjadi destinasi wisata resmi dimulai pada 2016, saat warga RW I Kelurahan Sumbersari mengusulkan konsep Tawangsari Kampoeng Sedjarah dalam ajang Festival Rancang Malang, lomba kampung tematik yang digelar Pemkot Malang.

Setahun berikutnya, konsep ini masuk 15 besar dan mendapat realisasi anggaran pembangunan gedung museum lewat mekanisme lelang elektronik. Gedung museum rampung dibangun pada 2018.

Peresmian kampung tematik ini dilakukan langsung oleh Wali Kota Malang saat itu, H. Moch. Anton, pada 22 April 2017. Momen peluncuran ditandai dengan reka ulang adegan pertempuran gerilya antara laskar Mayor Hamid Rusdi dan tentara kolonial Belanda.

Baca Juga: Museum Satwa, Wisata Edukasi dengan Koleksi Satwa dari Berbagai Belahan Dunia

Selain museum, kampung ini juga rutin menggelar Festival Kampoeng Tawangsari yang menampilkan bazar tradisional, pemutaran film sejarah, kesenian terbang jidor, pencak silat, musik keroncong, hingga drama pertempuran gerilya oleh pemuda setempat.

 

Editor : Aditya Novrian
#kampung tematik #tawangsari kampoeng sedjarah #wisata malang #wisata sejarah