BATU, RADAR BATU – Banyak tempat makan baru bermunculan setiap tahun di Malang Raya. Namun di tengah tren kuliner yang terus berubah, sejumlah tempat makan lawas tetap bertahan dan bahkan masih ramai didatangi pelanggan dari berbagai generasi.
Menariknya, beberapa kuliner berikut sudah berdiri jauh sebelum Generasi Z lahir. Meski telah melewati puluhan tahun, cita rasa yang dipertahankan membuat tempat-tempat ini tetap menjadi tujuan wisata kuliner hingga sekarang.
Baca Juga: Jangan Ngaku Pecinta Rawon Kalau Belum Coba Tempat Makan di Batu Ini
Warung Sate Gebug
Berusia lebih dari satu abad, Warung Sate Gebug menjadi salah satu kuliner legendaris yang masih bertahan di Kota Malang. Tempat makan yang berdiri sejak 1920 ini dikenal dengan sate sapi berukuran besar dan tekstur daging yang empuk.
Keunikan sate di tempat ini terletak pada potongan dagingnya yang lebih tebal dibanding sate pada umumnya. Selain sate, tersedia pula menu lain seperti rawon, soto, sop, dan tempe yang masih banyak diminati pelanggan hingga sekarang.
Warung Sate Gebug berlokasi di Jalan Jenderal Basuki Rahmat, Kecamatan Klojen, Kota Malang dan buka setiap Sabtu hingga Kamis pukul 08.00-16.30 WIB.
Toko Oen Malang
Berdiri sejak 1930, Toko Oen menjadi salah satu ikon kuliner lawas di Kota Malang. Bangunan bergaya kolonial yang masih dipertahankan membuat pengunjung seolah diajak kembali ke suasana tempo dulu.
Selain es krim yang menjadi menu andalan, tempat ini juga menyajikan berbagai hidangan seperti steak, lumpia, nasi goreng, gado-gado, hingga sop buntut. Hingga kini, Toko Oen masih menjadi tujuan wisatawan maupun warga lokal yang ingin menikmati suasana klasik Malang.
Toko Oen berlokasi di Jalan Jenderal Basuki Rahmat No. 5, Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang dan buka setiap hari pukul 08.00-21.00 WIB.
Puthu Lanang
Bagi pencinta jajanan tradisional, Puthu Lanang menjadi salah satu tempat yang tak boleh dilewatkan. Warung yang telah berdiri sejak 1935 ini dikenal dengan sajian puthu hangat yang dibuat menggunakan cara tradisional.
Selain puthu, tersedia pula aneka jajanan pasar seperti cenil, lupis, dan klepon yang selalu ramai diburu pembeli saat sore hingga malam hari. Harga yang terjangkau juga membuat tempat ini tetap menjadi favorit lintas generasi.
Puthu Lanang berada di Jalan Jaksa Agung Suprapto No. 73, Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Tempat ini buka setiap hari pukul 17.30-21.00 WIB.
Ronde Titoni 1948
Saat udara Malang mulai terasa dingin, Ronde Titoni menjadi salah satu tujuan kuliner malam yang banyak dicari. Tempat ini telah berdiri sejak 1948 dan masih mempertahankan cita rasa khas wedang ronde yang hangat.
Selain ronde kuah yang klasik, tersedia pula ronde kering yang memiliki sensasi berbeda. Harga yang ramah di kantong membuat tempat ini tetap ramai hingga sekarang.
Ronde Titoni berlokasi di Jalan Letjen Sutoyo No. 58, Lowokwaru, Kota Malang dan buka setiap hari pukul 19.00-23.00 WIB.
Soto Ayam Lombok 1955
Soto Ayam Lombok menjadi salah satu kuliner legendaris yang sudah dikenal lintas generasi sejak 1955. Kuah gurih yang hangat berpadu dengan suwiran ayam dan berbagai pelengkap membuat tempat ini masih memiliki banyak pelanggan setia.
Pengunjung dapat memilih berbagai varian menu mulai dari soto biasa, soto kulit, hingga soto spesial sesuai selera.
Salah satu cabangnya berada di Jalan Sulawesi No. 1, Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang dan buka setiap hari pukul 07.00-22.00 WIB.
Baca Juga: Anak Muda Wajib Tahu! Batu Punya Banyak Tempat Nongkrong dengan View Alam
Sego Goreng Resek Pak Man
Meski telah berjualan sejak 1959, Sego Goreng Resek Pak Man tetap menjadi salah satu kuliner malam favorit di Kota Malang. Racikan bumbu tradisional yang kuat membuat nasi goreng di tempat ini memiliki cita rasa yang khas.
Pengunjung dapat memilih berbagai tambahan lauk seperti telur, rempelo, maupun ayam suwir. Harganya yang terjangkau membuat warung ini hampir tak pernah sepi saat malam hari.
Sego Goreng Resek Pak Man berlokasi di Jalan Brigjen Katamso, Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang dan buka setiap hari pukul 17.00-21.00 WIB.
Meski usia mereka sudah puluhan hingga lebih dari seratus tahun, keenam kuliner tersebut membuktikan bahwa cita rasa yang konsisten mampu bertahan melewati perubahan zaman. Tak heran jika hingga kini tempat-tempat tersebut masih ramai didatangi pelanggan dari berbagai generasi.
Editor : Aditya Novrian