BATU, RADAR BATU - Narasi sastra dan visual berpadu dalam pameran tunggal seniman Slamet Hendro Kusumo di Galeri Raos, Kota Batu kemarin (9/4). Melalui tajuk Sastra Rupa: Paradoks Mitologi, sosok yang akrab disapa Henkus itu menghadirkan refleksi tajam tentang benturan modernitas dan tradisi.
Sebanyak 16 lukisan dipamerkan hingga 19 April mendatang. Karya-karya tersebut tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga mengusung narasi yang menghidupkan kembali mitos-mitos lama di tengah realitas kekinian. “Prosesnya sekitar lima bulan. Ini berangkat dari pengamatan saya terhadap benturan peradaban sehari-hari,” ujarnya.
BACA JUGA: Pencuri Gasak Uang Rp 5 Juta di Rumah Warga Junrejo Batu saat Korban ke Sawah
Lewat eksplorasi tersebut, Henkus menyoroti paradoks kehidupan modern yang terbelah antara rasionalitas dan spiritualitas. Menurutnya, manusia tidak pernah benar-benar bisa melepaskan akar budaya yang membentuk identitasnya. “Modernitas sering bertabrakan dengan memori budaya yang masih hidup,” jelasnya.
Salah satu inspirasi datang dari fenomena ritual tradisional yang tetap dilakukan di tengah lanskap kota modern. Bagi Henkus, kehadiran atribut budaya di ruang yang serba rasional menjadi gambaran nyata kontradiksi zaman.
Hal itu tergambar dalam karya berjudul Valentine Day. Lukisan tersebut memperlihatkan perbedaan tafsir perayaan kasih sayang antara masyarakat desa dan urban. Simbol bunga dipadukan dengan dupa sebagai bentuk kompromi budaya yang lahir secara alami.
BACA JUGA: Wali Kota Nurochman Turun ke Kebun Junggo Petik Apel Bareng Petani untuk Jaga Ikon Kota Batu
Penataan karya di galeri juga dibuat tidak konvensional. Lukisan ditempatkan di berbagai sudut untuk mendorong pengunjung lebih dekat dan larut dalam ruang kontemplatif. “Saya ingin pengunjung merenungkan kembali posisi manusia hari ini dibanding masa lalu,” tambahnya.
Salah seorang pengunjung Wildanun mengaku tersentuh dengan pesan yang disampaikan. Ia menilai karya-karya tersebut tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memantik emosi dan pemaknaan mendalam.
“Ada rasa reflektif, seperti diajak berhenti sejenak dan berpikir,” ujarnya. Pameran ini menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Selain itu, juga mengingatkan bahwa di tengah laju modernitas, jejak budaya tetap hidup dan membentuk cara manusia memahami dunia. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan