Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Nasib Songgoriti, Aset Wisata yang Berdiri di Atas Ketidakpastian (14), Tradisi Resik Dandang yang Kian Menjauh dari Ingatan Masyarakat Songgoriti

Aditya Novrian • Minggu, 8 Februari 2026 | 09:45 WIB
Candi Songgoriti (Sadayuki Matsuoka).
Candi Songgoriti (Sadayuki Matsuoka).

Tiga tahun sudah tradisi Resik Dandang absen dari Songgoriti. Di tengah lesunya pariwisata dan ekonomi warga, ritual penyucian menjelang Ramadan itu kini hanya tinggal kenangan. Masyarakat berharap tradisi tak ikut tenggelam bersama redupnya kawasan wisata.

Deru air sungai di dekat makam Mbah Patok tak lagi ramai oleh suara tawa dan percakapan warga. Tepian sungai yang dulu menjadi pusat kegiatan tradisi kini sepi mampring. Tidak ada dandang yang berjejer menunggu dibersihkan. Tidak ada pula warga yang berkumpul membawa makanan untuk disantap bersama.

Tahun ini, tradisi Resik Dandang kembali dipastikan tidak terlaksana. Tradisi masyarakat Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, yang biasanya digelar menjelang Ramadan itu telah absen selama tiga tahun berturut-turut. Terakhir kali dilaksanakan pada 2022. Ritual tersebut kini hanya tersisa dalam ingatan kolektif warga.

Pemangku adat Kelurahan Songgokerto, Wiji Mulyo, menyebut keputusan meniadakan tradisi bukan tanpa pertimbangan panjang. Biaya pelaksanaan yang tidak sedikit menjadi kendala utama. Terutama di tengah kondisi ekonomi warga yang belum sepenuhnya pulih.

“Kalau terlalu banyak tradisi dan iuran, khawatirkan justru memberatkan warga,” ujarnya.

Resik Dandang bukan sekadar seremoni. Tradisi ini melibatkan seluruh warga dalam rangkaian kegiatan yang panjang. Mulai kerja bakti membersihkan lingkungan, mencuci dandang alias peralatan memasak tradisional untuk menanak nasi, hingga doa bersama dan makan bersama di tepi sungai.

Ritual tersebut biasanya dilaksanakan sekitar sepekan sebelum Ramadan. Dandang-dandang yang dibawa warga dibersihkan bersama sebagai simbol penyucian diri. Bukan hanya peralatan yang dibersihkan. Namun, juga hati dan niat sebelum memasuki bulan suci.

Lokasinya berada di sekitar sungai dekat makam Mbah Patok, tokoh penyebar Islam di Songgoriti yang hingga kini masih dihormati masyarakat. Kehadiran tradisi itu selama puluhan tahun menjadi penanda kuat identitas budaya lokal. Namun kini, tradisi itu terhenti.

Selain faktor ekonomi, kondisi lingkungan juga turut memengaruhi. Wiji menjelaskan aliran sungai yang menjadi lokasi tradisi tidak lagi seperti dulu. Debit air berkurang dan kondisi fisik sungai berubah. Hal itu dinilai kurang ideal untuk kegiatan bersama di tepiannya.

Meski begitu, ia menegaskan faktor ekonomi tetap menjadi alasan paling dominan. Sepinya kawasan wisata Songgoriti berdampak langsung pada pendapatan warga. Dulu, geliat pariwisata menjadi penopang utama ekonomi masyarakat sekaligus pembiayaan tradisi lokal.

Kini, ketika wisata meredup, tradisi ikut terimbas.

“Sepinya wisata membuat pendapatan warga menurun. Padahal dulu pariwisata ikut menopang keberlangsungan tradisi,” ujarnya. Wiji menyebut tradisi Resik Dandang sebenarnya masih memiliki peluang untuk kembali digelar. Namun, hal itu membutuhkan dukungan dari pemerintah, terutama Dinas Pariwisata.

Kolaborasi dinilai penting agar beban pembiayaan tidak sepenuhnya ditanggung warga. “Kalau ada kerja sama dengan dinas pariwisata, tentu akan lebih ringan dan tradisi bisa terus hidup,” katanya.

Baginya, Resik Dandang bukan sekadar kegiatan rutin tahunan. Tradisi itu adalah bagian dari identitas masyarakat Songgoriti. Hilangnya tradisi berarti hilangnya salah satu penanda kebersamaan warga.

Ia mengaku sedih setiap kali menjelang Ramadan tanpa pelaksanaan Resik Dandang. Bagi generasi muda, tradisi yang absen bertahun-tahun berpotensi dilupakan. Tanpa upaya pelestarian, ritual yang dulu mengikat solidaritas warga bisa perlahan menghilang.

Di tengah ketidakpastian pengelolaan kawasan wisata Songgoriti, masyarakat kini tak hanya kehilangan keramaian wisatawan. Mereka juga mulai kehilangan ruang-ruang tradisi yang selama ini menjadi perekat sosial.

Harapan pun tersisa pada kemungkinan kolaborasi lintas pihak. Agar suatu hari nanti, di tepian sungai dekat makam Mbah Patok, dandang-dandang itu kembali berderet. Warga berkumpul, membersihkan, berdoa, dan merayakan kebersamaan seperti dulu, sebelum tradisi itu benar-benar hilang ditelan waktu. (*/dre)

 

 Disunting kembali oleh Intan Nurlita Dewi

Editor : Aditya Novrian
#songgoriti #tradisi #wisata #batu