Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Wisatawan Pilih Vila dan One Day Trip saat Nataru, Okupansi Hotel di Kota Batu Anjlok

Aditya Novrian • Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:09 WIB

BELUM PENUH: Petugas El Kartika Wijaya Hotel menunggu tamu check in beberapa waktu lalu.
BELUM PENUH: Petugas El Kartika Wijaya Hotel menunggu tamu check in beberapa waktu lalu.

BATU - Lonjakan kunjungan wisata selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026 tak otomatis berbanding lurus dengan tingkat hunian hotel di Kota Batu. Hingga puncak pergantian tahun, okupansi hotel tercatat stagnan di bawah 70 persen. Angkanya jauh dari target pelaku usaha yang berharap menembus 90 persen seperti tahun sebelumnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengakui lesunya keterisian kamar hotel sudah terdeteksi sejak awal periode libur. Pergerakan reservasi dinilai tidak agresif, bahkan menjadi yang terendah dalam beberapa tahun terakhir.

“Jika dibandingkan Nataru tahun lalu, okupansi hotel turun sekitar 20 persen,” ujar Sujud.

Baca Juga: Okupansi Vila di Kota Batu Sentuh 75 Persen, Pendataan Pelaku Usaha sebagai Wajib Pajak Masih Tertatih

Menurutnya, penurunan tersebut tidak bisa dilepaskan dari melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat wisatawan lebih selektif dalam membelanjakan uang liburan.

Sebagian tetap datang ke Kota Batu, tapi memilih tidak menginap di hotel. Faktor lain yang turut menekan okupansi hotel yakni ketiadaan destinasi wisata baru yang signifikan sepanjang 2025. Selain itu, meningkatnya persaingan antardaerah tujuan wisata. Situasi ini membuat lama tinggal wisatawan semakin pendek.

“Ditambah lagi, pilihan akomodasi nonhotel semakin diminati,” imbuhnya.

Baca Juga: Area Alun-Alun Wisata Kota Batu Dibanjiri Pedagang Kaki Lima Liar

Fenomena itu tercermin dari tingginya tingkat hunian vila dan homestay. Ketua Indonesia Home Stay Association (IHSA) Kota Batu, Natalina, menyebut okupansi vila dan homestay selama libur Nataru justru menyentuh rata-rata 90 persen.

Angkanya bahkan meningkat sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Data tersebut dihimpun dari sekitar 400 properti, yang terdiri dari 70 persen vila dan 30 persen homestay. Menurut Natalina, wisatawan kini cenderung memilih vila karena harga lebih fleksibel, fasilitas privat, konsep tematik, serta pemandangan alam yang ditawarkan.

“Promosi vila juga jauh lebih masif melalui platform digital dan media sosial,” katanya.

Baca Juga: Banyak Wisatawan Tertipu Vila Bodong di Kota Batu

Meski demikian, kenaikan okupansi vila tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ideal. Natalina mencatat adanya perubahan pola tinggal wisatawan.

Mayoritas reservasi hanya untuk satu malam. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai dua sampai tiga malam.

“Durasi menginap makin pendek. Ini indikasi wisatawan menekan pengeluaran, bersiap menghadapi Ramadan dan Lebaran,” ujarnya.

 Baca Juga: Realisasi Kunjungan Wisata Natal dan Tahun Baru di Kota Batu Hanya 61 Persen dari Target

Sementara itu, aparat kepolisian mencermati pola baru dalam pergerakan wisatawan. Kapolres Batu AKBP Andi Yudha Pranata menyebut tren one day trip atau perjalanan pulang-pergi dalam sehari semakin dominan.

“Banyak wisatawan datang pagi dan pulang sore tanpa menginap. Ini strategi mereka menekan biaya,” jelasnya.

Keputusan menginap, lanjut Andi, kerap bersifat situasional dan dadakan, terutama dipengaruhi faktor cuaca ekstrem atau kepadatan lalu lintas.

Fenomena tersebut menjadi sinyal penting bagi industri pariwisata Kota Batu. Lonjakan kunjungan tidak lagi otomatis menjamin belanja wisata tinggi. Terutama pada sektor perhotelan. Perubahan perilaku wisatawan menuntut penyesuaian strategi, baik dari sisi produk, harga, maupun pengalaman yang ditawarkan. (ori/dre)

Editor : Aditya Novrian
#hotel #wisatawan #nataru #vila