BUMIAJI - Menjelang pembukaan flora wisata di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji pada akhir November mendatang, pemerintah desa (pemdes) menyiapkan rencana komersial yang signifikan. Yakni dengan menyiapkan sekitar 70 kios di area wisata. Kios itu akan disewakan tahunan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Namun, pelaku UMKM yang tidak punya kemampuan sewa atau memiliki keterbatasan SDM untuk menjaga kios, mereka bisa menitipkan produk di pusat perbelanjaan yang akan dijaga petugas dari flora wisata. Skema itu berpotensi memberdayakan 125 UMKM. Fasilitas ritel ini diharapkan jadi mesin penyerapan tenaga kerja dan panggung bagi produk lokal.
Menurut Kepala Desa Tulungrejo, Suliono stan di kawasan flora wisata akan dikelompokkan berdasarkan jenis produk. Misalnya makanan dan minuman, oleh-oleh, kerajinan, bunga hidup dan buket, serta buah dan sayur hasil pertanian. Dia mengaku juga menyiapkan dukungan pembiayaan dan modal lewat kerja sama dengan Bank Mandiri.
“Kerja sama itu untuk kemudahan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR),” ujarnya. Selain itu, pemdes akan terus melakukan pendampingan peningkatan kapasitas produk UMKM melalui pelatihan-pelatihan. Termasuk pendampingan pengurusan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikasi halal sebagai upaya menaikkan mutu dan daya saing UMKM.
Namun, rencana komersial itu menghadapi sedikit mengalami gesekan. Isu harga sewa tenan yang beredar di kalangan warga memicu kekhawatiran. Informasi yang beredar menyebut tarif sewa tahunan mencapai Rp25 juta. Artinya tarif sewa bulanan mencapai Rp2 juta lebih. Tarif tersebut dinilai tinggi apalagi untuk UMKM skala mikro.
“Tarif sewa sebesar Rp25 juta per tahun tentu berat. Masyarakat masih pikir-pikir,” ujar Suparti, yang mewakili warga Dusun Junggo. Kekhawatiran serupa muncul dari pengelola kecil yang mengandalkan margin tipis. Jika tarif sewa memang sebesar itu, kelayakan ekonomi tenan skala mikro yang menjadi andalan promosi produk lokal patut dipertanyakan.
Kendati begitu, belum ada tarif resmi yang dirilis pengelola terkait tarif sewa kios di sana. Masyarakat berharap tarif tersebut bisa dirundingkan kembali dan disepakati ulang dengan mempertimbangkan iklim usaha mikro saat ini.
Di tempat lain, salah satu pendamping UMKM Desa Tulungrejo, Maharani Eka Sari menyatakan belum terlibat langsung dalam fase persiapan komersial Flora Wisata. Dia mengatakan dukungan teknis tetap tersedia bagi pelaku yang membutuhkan.
Melalui pendamping UMKM desa, Maharani menegaskan ada fasilitasi desain kemasan, pemasaran, dan peralatan. Namun, penguatan kebijakan penataan pasar dan tarif sewa perlu sinergi lebih kuat antara desa, pengelola, dan dinas teknis. Sebab, dari sisi ekonomi lokal, prospek flora wisata sangat menjanjikan.
Selain penyerapan tenaga kerja lokal, operasional flora wisata bisa memberikan efek domino pada banyak sektor lain. Di antaranya berpotensi mendorong pendirian pasar wisata di sekitar lokasi wisata, meningkatkan pendapatan homestay, jasa antar-jemput, dan layanan pariwisata lainnya.
Realisasi manfaat itu bergantung pada kebijakan harga sewa, model bagi hasil, serta akses modal dan pendampingan bagi UMKM mikro. Untuk menjaga keterjangkauan dan inklusivitas, pemangku kepentingan perlu menegaskan mekanisme alokasi stan bagi pelaku usaha lokal.
Lebih lanjut, subsidi atau skema sewa bertingkat untuk UMKM baru dan transparansi penetapan tarif sebelum grand opening perlu diperjelas. Langkah sederhana itu, menurut Maharani dapat menentukan apakah flora wisata benar-benar menjadi ruang ekonomi yang memberdayakan warga setempat. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho