RADAR BATU — Di tengah ritme hidup yang semakin cepat dan tekanan pekerjaan yang kian tinggi, banyak orang kini mencari tempat pelarian yang nyaman di luar rumah dan kantor.
Fenomena tersebut dikenal sebagai “Third Place” atau “tempat ketiga” di mana ruang sosial informal seperti kafe, taman kota, atau ruang komunitas yang menjadi titik temu antara produktivitas dan relaksasi.
Istilah Third Place pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Ray Oldenburg dalam bukunya The Great Good Place.
Baca Juga: Bukan Cuma Ngopi, Tapi Juga Ngebuku! Ini Dia Cafe Tenang di Batu yang Bikin Kamu Betah Berlama-lama
Ia menyebut rumah sebagai First Place dan kantor sebagai Second Place, sementara Third Place adalah ruang netral yang memungkinkan interaksi sosial tanpa tekanan formal.
Di Indonesia, terutama di kota-kota seperti Malang Raya, tren ini terlihat jelas dari menjamurnya kafe dengan desain nyaman, Wifi gratis, dan suasana yang mendukung kerja maupun bersantai.
Salah satu pemilik kafe di kawasan Oro-Oro Dowo mengatakan bahwa mereka memang sengaja mendesain tempat cafe senyaman mungkin agar pengunjung bisa kerja sambil ngopi, atau sekadar ngobrol santai.
Baca Juga: Rekomendasi Cafe Pet Friendly di Batu untuk Nongkrong Bersama Hewan Kesayangan
Menariknya, konsep ini bukan hal baru. Sejak abad ke-16, kedai kopi di Istanbul sudah menjadi tempat diskusi para intelektual.
Di Eropa, tokoh seperti Freud dan Hemingway juga dikenal sering menulis di kafe yang kini, budaya itu hidup kembali dalam bentuk work from cafe (WFC), terutama pasca-pandemi yang mendorong fleksibilitas kerja.
Lebih dari sekadar tempat ngopi, third place menjadi ruang aman untuk mengekspresikan diri, membangun jejaring sosial, hingga menemukan inspirasi.
Di tengah dunia yang serba digital dan individualistis, tempat-tempat ini menjadi oase kecil yang menyatukan manusia dalam percakapan nyata. (fi)
Editor : Aditya Novrian