BUMIAJI - Desa Wisata Punten, Kecamatan Bumiaji tampaknya menjadi destinasi yang palingg terdampak kebijakan larangan study tour yang dicanangkan Gubernur Jawa Barat.
Pasalnya, sudah ada delapan rombongan wisata sekolah dari wilayah tersebut yang membatalkan rencana kunjungan wisata live inn di Desa Punten. Padahal sepanjang 2025 ini sudah ada 6 kunjungan wisata live inn di sana.
Angka tersebut masih belum tinggi. Namun, menurut Marketing Desa Wisata Punten Yayuk Murniwati merupakan sebuah simbol kebangkitan pariwisata di Kota Batu pascapandemi Covid-19. Dia menyebut selama ini mayoritas rombongan wisatawan berasal dari Jawa Barat.
“Hampir 80 persen wisatawan kami dari sana (Jawa Barat),” tegasnya.
Yayuk menyebut segementasi pasar Desa Wisata Punten memang banyak menyasar sekolah dari pemerintahan. Sehingga, wajar jika kebijakan tersebut akan sangat berdampak terhadap angka kunjungan wisata di Desa Punten.
Dia mengaku harus mengembalikan sejumlah uang hasil Down Payment (DP) senilai jutaan rupiah.
Sebab, satu rombongan diharuskan DP terlebih dahulu untuk reservasi jadwal kunjungan. Nominalnya mulai dari Rp 1-5 juta.
Yayuk memperkirakan setidaknya ada 1.000 wisatawan dari delapan kunjungan kolektif yang dibatalkan itu. Sebab, dalam satu rombongan minimal harus membuat 100 anggota.
Baca Juga: Dewan Soroti Prosedur Keselamatan Wahana di Destinasi Wisata Kota Batu
Potensi perputaran uangnya ditaksir mencapai Rp 400 juta. Sayangnya potensi tersebut terpaksa melayang lantaran kebijakan larangan study tour.
“Itu belum termasuk potensi perputaran uang di masyarakat sekitar,” imbuhnya.
Misalnya, ada rombongan wisatawan yang menginap, tentu pelaku usaha penginapan dan kuliner juga akan ikut menikmati dampak positifnya.
Yayuk kini sedang melakukan upaya promosi yang menyasar segmentasi wisatawan yang baru. Misalnya, dari rombongan keluarga baik dari luar provinsi maupun dalam Provinsi Jawa Timur. (ori/dre)
Editor : Aditya Novrian