BATU – Bulan Ramadan selalu menjadi tantangan bagi sektor pariwisata di Kota Batu. Kunjungan wisatawan cenderung menurun, terutama karena adanya pembatasan operasional tempat hiburan dan perubahan kebiasaan masyarakat selama bulan puasa. Namun, Dinas Pariwisata Kota Batu (Disparta) tidak tinggal diam. Berbagai strategi telah disiapkan untuk menjaga daya tarik wisata selama Ramadan.
Kepala Disparta Kota Batu, Onny Ardianto, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerbitkan surat edaran yang mengatur operasional usaha selama Ramadan. Beberapa kebijakan utama dalam aturan tersebut meliputi penutupan tempat hiburan tertentu, larangan penjualan makanan dan minuman beralkohol, kewajiban memasang tirai penutup bagi penjual makanan saat siang hari, serta pengawasan harga agar tetap stabil. Untuk memastikan aturan ini dipatuhi, Disparta akan bekerja sama dengan Satpol PP Kota Batu dalam melakukan pemantauan rutin.
Baca Juga: 4 Bus Tak Layak Jalan di Area Parkir Objek Wisata Kota Batu Dipasang Stiker Dilarang Operasional
Meski menghadapi tantangan penurunan kunjungan, Onny menegaskan bahwa berbagai inovasi sedang disiapkan untuk tetap menarik wisatawan. “Kami akan berkoordinasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk mengumpulkan semua event di hotel dan restoran, yang kemudian akan dipublikasikan secara luas oleh Disparta,” jelasnya. Selain itu, para pelaku usaha wisata juga diajak untuk menawarkan berbagai paket berbuka puasa dan program wisata tematik yang lebih menarik selama bulan Ramadan.
Kasatpol PP Kota Batu, Abdul Rais, menambahkan bahwa pengawasan terhadap pelaku usaha akan diperketat guna memastikan kepatuhan terhadap aturan yang telah ditetapkan. “Selama ini, pengusaha di Kota Batu cukup tertib. Namun, jika ada pelanggaran, kami akan segera memberikan teguran, baik secara lisan maupun tertulis,” ujarnya. Satpol PP juga akan bekerja sama dengan Disparta, aparat penegak hukum, dan BNN untuk memastikan situasi tetap kondusif selama bulan Ramadan.
Baca Juga: Desa Wisata Sumbang 60 Persen Kunjungan Wisatawan
Dari sisi industri pariwisata, Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, mengakui bahwa kunjungan wisata ke Kota Batu memang cenderung menurun selama Ramadan. Hal ini diperparah dengan jadwal libur yang berdekatan, seperti libur Natal, Tahun Baru, Imlek, dan Idul Fitri. Meskipun demikian, minat masyarakat untuk berbuka puasa bersama di hotel dan restoran tetap tinggi, sehingga paket iftar menjadi salah satu daya tarik utama bagi industri perhotelan dan kuliner di Kota Batu.
Pengamat Ekonomi Pariwisata, Aang Afandi, menyarankan agar pengelola wisata lebih kreatif dalam menawarkan pengalaman baru bagi wisatawan. Salah satu ide yang bisa diterapkan adalah wisata jalan kaki menjelang berbuka puasa, memanfaatkan pedestrian baru yang telah diresmikan di Kota Batu. “Konsep ini bisa dikemas dalam bentuk city tour yang menghubungkan beberapa destinasi wisata, hotel, dan restoran, sehingga wisatawan tetap bisa menikmati keindahan Kota Batu sambil menunggu waktu berbuka,” ujarnya.
Dengan berbagai strategi dan inovasi yang disiapkan, diharapkan sektor pariwisata di Kota Batu tetap bergairah selama Ramadan, meski menghadapi tantangan penurunan jumlah wisatawan. (my)
Editor : Aditya Novrian