BATU, RADAR BATU - Pemerintah Kota Batu mendorong modernisasi pertanian untuk menarik lebih banyak generasi muda menekuni profesi petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno mengatakan, pertanian memiliki peluang ekonomi tinggi jika dikelola dengan pendekatan bisnis dan teknologi.
Salah satu teknologi yang mulai dapat diterapkan ialah Internet of Things (IoT). Sistem tersebut memungkinkan aktivitas pertanian dilakukan melalui perangkat yang terhubung internet.
Baca Juga: Regenerasi Petani Masih Minim, Hanya 2.500 dari 18.000 Petani Berusia Muda - Radar Batu
Mulai dari penyiraman, pemberian nutrisi, hingga pemantauan kelembapan lahan dapat dilakukan secara lebih efisien. Kebutuhan tenaga kerja untuk mengelola lahan juga dapat ditekan.
Hendry mencontohkan penggunaan sistem penyiraman otomatis. Air dapat dipompa dari sungai atau sumber air, kemudian dialirkan melalui pipa ke lahan.
“Dengan IoT, petani muda bisa melakukan semuanya sendiri dengan mudah. Sebab, semuanya sudah dilakukan sistem atau disebut smart farming,” ujarnya.
Baca Juga: Petani Muda Kota Batu Baru 13,89 Persen - Radar Batu
Menurut Hendry, keterbatasan jumlah petani muda tidak otomatis menunjukkan sektor pertanian Kota Batu tertinggal dari sisi teknologi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 13.000 petani telah mampu beradaptasi dengan teknologi pertanian. Mereka berasal dari berbagai kelompok usia, termasuk petani lanjut usia.
Modernisasi pertanian dinilai penting untuk mengubah pandangan generasi muda terhadap profesi tersebut. Bertani tidak lagi semata-mata pekerjaan yang mengandalkan tenaga fisik.
Baca Juga: BSFF ke-9 Digelar di Kota Batu, 40 Tenant Kuliner Ramaikan Festival - Radar Batu
Namun, teknologi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan usaha tani. Pemilihan komoditas juga harus disesuaikan dengan kondisi geografis dan cuaca.
Di Desa Sumberbrantas, petani banyak menanam kentang. Sementara itu, wilayah yang lebih rendah seperti Desa Pendem lebih dominan menanam padi.
Petani juga menyesuaikan komoditas dengan musim. Nyamin, petani Desa Sumberbrantas, mengaku mengganti tanaman hingga tiga kali dalam setahun.
“Selama kemarau ini menanam kentang, sedangkan saat penghujan saya tanam wortel. Satunya saya lupa, tetapi yang jelas harus terus bergantian setiap musim,” katanya.
Editor : Fajar Andre Setiawan