JUNREJO, RADAR BATU - Inovasi pestisida nabati bernama Kolaborasa memecah kebuntuan dan ketergantungan pada pestisida kimia berbiaya tinggi. Ditambah, pestisida kimia justru membuat krisis resistensi hama di lahan pertanian Kota Batu. Formula ramah lingkungan itu terbukti ampuh menyelamatkan ladang cabai dan tomat yang sebelumnya kritis lantaran terinfeksi virus gemini hingga 80 persen.
Resep ini diracik Heru Sutomo, Ketua Kelompok Tani Sri Sedono 05, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo. Inovasi ini lahir dari keprihatinan. Heru mengamati harga obat-obatan kimia yang terus meroket. Sementara, efektivitasnya dalam menjinakkan virus gemini kian tumpul. Sejak pertengahan 2023, ia konsisten meracik formula mandiri berbahan dasar ekstrak bintaro, bawang putih, serai, dan aneka empon-empon.
BACA JUGA: Camping dengan View Pegunungan di Pujon, Alternatif Liburan Alam yang Banyak Diminati
Biaya produksinya sangat ekonomis. Dengan modal Rp100 ribu, Heru sanggup memproduksi enam liter cairan Kolaborasa. Secara struktural, ramuan ini kaya akan flavonoid sebagai fungisida, fenol penangkal jamur, serta tanin yang bertindak sebagai antivirus aktif berspektrum luas untuk membasmi ulat hingga kutu-kutuan.
Kolaborasa memiliki keunggulan fungsi ganda. Ramuan ini tak sekadar pembunuh hama, tetapi juga bertransformasi sebagai zat pengatur tumbuh (ZPT), antibakteri, hingga booster nutrisi. Aplikasi rutin seminggu sekali dengan takaran 7 mililiter per liter air terbukti memicu kemunculan pucuk baru.
BACA JUGA: Apa Itu IPK, IPS, dan Transkrip Nilai? Ini Perbedaannya
Heru mengklaim ukuran dan bobot baik buah tomat maupun cabai sukses dikembalikan ke standar normal. Namun, formula ini hanya menstimulasi pertumbuhan baru, bukan menghijaukan kembali daun tua yang telanjur rusak.
Keandalan Kolaborasa yakni telah melewati uji lapangan ekstrem sejak Januari 2024. Uji pertama menyasar ladang tomat usia 28 hari dengan tingkat kerusakan 80 persen. Hasilnya, tanaman kembali pulih dalam tempo 10 hingga 14 hari.
Uji kedua dilakukan pada lahan cabai rawit berpopulasi 3.500 batang yang nyaris berstatus gagal panen. Heru sukses membalikkan keadaan. Tanaman kritis itu berhasil diselamatkan hingga mampu mencatat produktivitas tinggi sebanyak 24 kali petik.
BACA JUGA: Wisata Batu Belum Lengkap Tanpa Berburu Oleh-Oleh, Ini Pilihan yang Banyak Dicari Wisatawan
Inovasi memukau ini sukses mengantar Heru menyabet gelar Juara 1 Lomba Inovasi Kota Batu. Tahun ini, ia bersiap melaju mewakili daerahnya ke tingkat Provinsi Jawa Timur dalam kategori Inovasi Pertanian Berkelanjutan.
Lahan dan laboratorium mininya di Dadaprejo kini beralih fungsi menjadi pusat rujukan agrobisnis organik. Ratusan petani dari Lamongan, Tulungagung, hingga akademisi lintas Malang Raya tercatat rutin melakukan studi banding.
BACA JUGA: Apa Itu Portofolio? Ini Fungsi dan Jurusan yang Membutuhkannya
Kendati peminatnya membeludak, Heru menegaskan Kolaborasa belum diperjualbelikan secara komersial. Pemanfaatannya tertahan regulasi perizinan formal. Itu membuat penggunaannya masih eksklusif untuk kalangan pribadi dan internal kelompok tani. “Alam telah menyediakan segala nutrisi dan proteksi. Manusia hanya perlu memfasilitasi,” tegasnya.
Langkah solutif ini mendapat legitimasi dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu. Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Ahli Muda Distan-KP Kota Batu Retno Indahwati menyebut Kolaborasa menjadi angin segar di tengah buruknya mitigasi petani.
BACA JUGA: Menunggu Roller Coaster Baru di Jatim Park 1? Coba Dulu Tiga Wahana Paling Menantang Ini
Virus gemini yang dibawa vektor kutu kebul dari gulma wedusan (Ageratum Conyzoides) mematikan klorofil dan menghentikan fotosintesis. Otoritas terkait menyoroti lambatnya respons petani yang kerap baru melapor saat infeksi telanjur parah. Di fase itu, intervensi kimiawi dipastikan sia-sia.
“Kehadiran inovasi nabati seperti Kolaborasa ini sejalan dengan kampanye kami. Ini solusi ideal yang harus didampingi dengan sanitasi lahan rutin dan penggunaan varietas benih tahan virus,” pungkas Retno. (Ramyzard Rafsanjani/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan