SULIONO lahir di Ngunut, Kabupaten Tulungagung, pada 1969. Pada 1976–1977, keluarganya pindah ke Batu dengan harapan mendapat kehidupan yang lebih baik. Sejak muda, Suliono telah mengenal kerja keras dengan membantu orang tua bertani sekaligus menyerap nilai keberanian dan kemandirian. Perjalanan politiknya panjang dan berliku. Tahun 2003, ia mencalonkan diri sebagai kepala dusun (kasun), tetapi gagal. Empat tahun kemudian, 2007, ia mencoba peruntungan sebagai kepala desa (kades) dan kembali tidak terpilih. “Sebelumnya, pada 2007 sudah jadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan sebenarnya pada tahun 1991 sudah sempat jadi ketua RT,” kenangnya.
Pada 2012, langkah ketiganya menuju kursi kepala desa akhirnya berhasil. Begitu terpilih, ia langsung melakukan gebrakan besar. Dia mengumpulkan seluruh elemen masyarakat. Mulai dari warga, tokoh masyarakat, LSM, ormas, hingga organisasi lokal. Mereka bertemu dalam satu forum untuk membahas masa depan Tulungrejo. Dari diskusi panjang itu lahirlah sebuah master plan desa. Dokumen ini menjadi arah pembangunan, memastikan seluruh aset desa tetap terjaga, tetapi juga mampu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Branding desa wisata dibangun dengan serius, melibatkan para pelaku UMKM, petani, pemuda, dan pengelola wisata alam. Pembenahan infrastruktur pariwisata digerakkan secara bertahap. Tidak hanya itu, desa membuka peluang kemitraan dengan pihak swasta, universitas, hingga lembaga pemerintah. Di Desa Tulungrejo selama ini ada dua wisata yang legendaris, yaitu Selecta dan Coban Talun. Untuk menambah destinasi itu, pihak desa mengembangkan wisata dusun kuliner, kebun stroberi milik desa, termasuk mendukung Pura Luhur Giri Arjuna sebagai destinasi wisata religi. Kemudian ada juga petik apel, hingga jeep adventure yang memadukan wisata alam dan adrenalin.
Menurut dia, setiap destinasi dikembangkan dengan prinsip keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal. “Akhir tahun ini juga akan ada wisata baru, Flora Wisata yang berdiri di lahan desa dengan luas sekitar 14 hektare dengan investasi Rp 100 miliar lebih,” ungkap Ki Klungsu.
Hasil kerja kerasnya bersama semua elemen masyarakat membuahkan beberapa penghargaan. Di antaranya penghargaan lencana desa mandiri dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi tahun 2022. Kemudian juara 1 dalam ajang Perlombaan Desa dan Kelurahan di Provinsi Jawa Timur tahun 2024.
Untuk penghargaan internasional, pada 18 Juni 2025 Desa Tulungrejo dinobatkan sebagai penerima “One to Watch Award” dalam ajang Responsible Tourism Awards Southeast Asia 2025 di Lyceum of the Philippines University, Cavite. Penghargaan ini diberikan karena Tulungrejo dianggap berhasil menghadirkan pariwisata berbasis masyarakat yang inklusif, bertanggung jawab, dan berdampak nyata terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Suliono memandang prestasi tersebut sebagai hasil kerja kolektif masyarakat desa dan bantuan dari Pemerintah Kota Batu beserta seluruh dinas. “Kalau hidup dan berkarya tapi tidak membawa manfaat untuk apa?” ungkapnya. Bagi Suliono, prestasi adalah alat,bukan tujuan akhir. Keberhasilan Tulungrejo menarik perhatian investor. Investasi yang masuk semakin memperkuat sektor pariwisata desa, membuka lapangan pekerjaan, dan berpeluang menaikkan pendapatan warga. (dia/lid)
Editor : A. Nugroho