Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Kiprah Tomi Adi Winarko Hasilkan Home Decor untuk Pasar Internasional

Bayu Mulya Putra • Rabu, 2 Juli 2025 | 16:57 WIB

PEMINAT TINGGI: Tomi Adi Winarko merapikan sejumlah produk home decor yang dipajang di galerinya di Kampung UMKM Rejoso, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Minggu (29/6) lalu.
PEMINAT TINGGI: Tomi Adi Winarko merapikan sejumlah produk home decor yang dipajang di galerinya di Kampung UMKM Rejoso, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Minggu (29/6) lalu.

Karyanya Sudah Dilirik Warga Eropa sejak 2020

Tinggal di sentra UMKM, membuat Tomi Adi Winarko leluasa belajar membuat kerajinan. Sejak 2010, pria kelahiran 1985 itu fokus menghasilkan produk home decor hingga konseptor playground. Produk dan karyanya banyak diapresiasi warga Eropa.

Galeri milik Tomi Adi Winarko berada di tengah Kampung UMKM Rejoso, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Untuk sampai di sana harus berjalan sekitar 200 meter melewati gang sempit. Posisinya berada di ujung gang.

Pajangan home decor langsung terlihat di bagian dalam galeri. Ada yang berbahan dasar limbah bata ringan. Ada pula yang berbahan kayu. Semua berjajar rapi di atas rak dengan berbagai bentuk dan fungsi di ruangan berukuran 2 x 4 meter persegi.

Seperti asbak, pot bunga, lampu, rak, atau hanya sekadar pajangan untuk mempercantik ruangan. Ratusan produk buatannya itu tak hanya dipajang untuk memanjakan mata. Namun sekaligus dijual bila ada yang langsung datang ke galeri. Bahkan, beberapa di antaranya juga sudah terbungkus rapi untuk siap dikirim.

Masuk lebih dalam, ada ruangan kecil berukuran serupa. Di ruangan itu, Tomi biasa membuat berbagai produk kerajinan pesanan hingga ide yang baru saja dia buat. Saat itu dia tengah sibuk memahat bata ringan yang bentuknya hampir jadi. ”Kalau yang ini model mediteranian, biasanya untuk pajangan ruangan untuk dikirim ke Bali,” terangnya saat ditemui pada Minggu lalu (29/6).

Sejak menginjak di bangku SMP, Tomi sudah belajar membuat produk kerajinan. Maklum saja, dia tinggal di Kampung UMKM yang memproduksi berbagai produk kerajinan. Itu membuat dia terus menekuni keterampilan hingga mampu menghasilkan produk sendiri sejak 2010 lalu.

Di tengah kesibukannya, Tomi juga menjalani profesi sebagai guru seni budaya di salah satu sekolah di Kota Malang. Karena merasa cukup jenuh, dia mundur dari pekerjaan pada 2014, lalu fokus mengembangkan usaha.

”Awalnya juga dikira aneh, karena saya sering cari-cari barang limbah untuk dijadikan kerajinan,” tuturnya. Contohnya seperti bata ringan bekas bangunan yang sudah tidak terpakai. Itu dia dapat saat tak sengaja berkeliling di sekitar rumah. Ada pula batang pohon apel yang mengering hingga kayu yang sudah lapuk.

Di tangannya, limbah itu bisa menjadi produk yang cantik dan estetik. Tomi biasanya membuat satu atau dua produk baru per harinya. Kemudian dia pamerkan ke media sosial. Aktivitas itu cukup mengundang atensi dari berbagai daerah bahkan hingga ke mancanegara.

”Orderan pertama saya buat lima buah patung dari bata ringan ke Portugal berukuran 80 cm tahun 2020 lalu,” ujarnya. Satu produk yang dia buat berhasil memikat pencinta home decor. Kemudian dia diminta mengirim lagi sekitar 80 buah patung yang sama. Hingga akhirnya dia menjadi langganan mengirim ke Portugal untuk dijual lagi hingga sekadar hiasan rumah saja.

Produknya semakin terkenal hingga Tomi menerima berbagai job home decor berskala besar. Seperti salah satu project yang dia kerjakan di Prancis pada 2020 lalu. Saat itu dia menjadi salah satu konseptor galeri di sana bersama para seniman dari berbagai negara.

”Kami membuat kolam disertai air terjun buatan di tengahnya di atas tanah sekitar 9 ribu hektare,” cerita alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu. Sejak saat itu, Tomi juga dipercaya sebagai konseptor berbagai model taman hingga playground. Dia sering bertolak ke Pulau Dewata untuk beberapa hari demi mengerjakan proyek.

Salah satu proyek Kids Soho di Bali milik WNA asal London. Pria yang kini berusia 40 tahun itu tak bekerja sendirian. Dia memberdayakan banyak anak di Kampung UMKM Rejoso untuk belajar membuat kerajinan. Selain alasan menurunkan warisan budaya, Tomi berkeinginan untuk memberikan lapangan kerja. Khususnya bagi anak yang putus sekolah.

Itu cukup membantunya dalam memenuhi pesanan. Apalagi jika orderan dari luar negeri membeludak. Di waktu luang, Tomi juga sering membuat berbagai konsep taman hingga monumen. Dia berkeinginan untuk menciptakan ikon baru Kota Batu dengan hasil tangannya. Sayangnya, cita-citanya itu belum sampai kepada Pemkot Batu. ”Kalau ada kesempatan, saya ingin sekali terlibat untuk mempercantik ikon Kota Batu,” pungkas dia. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#umkm #kerajinan #pasar internasional #home decor