Pilihan Ponimin menekuni seni kriya sejak berusia 19 tahun menjadi hal tepat. Dunia yang dia tekuni dengan telaten itu mengantarkannya pameran ke berbagai negara. Pada akhir tahun nanti berkesempatan mengirim karya batik ke Makkah.
Berkunjung ke rumah Ponimin yang berada di Desa Dadaprejo, Junerjo, Batu, wartawan koran ini disambut tiga karya seni kriya keramik milik seniman berusia 60 tahun itu.
Karya dengan tinggi tiga meter dan lebar dua meter tersebut merupakan salah satu project spesial Ponimin. Diciptakan untuk Pemeran Nasional Kriya Undagi pada tahun 2018.
Terlihat, karya tersebut dibuat dengan detail. Informasinya, tanah liat yang digunakan berasal dari Wajak, Kabupaten Malang. Pengerjaan masing-masing karya itu membutuhkan waktu satu minggu.
Ponimin menamai karya tersebut Takdir dan Pilihan Asmara. ”Merupakan perwujudan dari Dewi Sekartaji,” katanya kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin. Membuat karya itu merupakan cita-citanya sejak masih kecil.
Dunia seni memang sudah diakrabi Ponimin muda. Adalah sang kakak yang menjadi sumber inspirasinya terjun di dunia seni. Sosok itu membuatnya berani hijrah ke Jogjakarta pada saat usianya belum genap 20 tahun.
Pada tahun 1984 di Desa Kasongan yang berada di selatan Jogjakarta dan sebelah utara Bantul dia mulai meniti perjalanan di dunia keramik.
Dia tak sekadar mendirikan studio, tapi punya orientasi untuk menciptakan sumber pendidikan kriya keramik. Tujuannya, ingin menghadirkan pendidikan di sana.
Kreasi Kriya Nusantara menjadi nama tempat Ponimin berkarya saat itu. Nama tersebut digunakannya karena seni kriya yang diciptakannya mengusung desain dan karakter Nusantara.
Baginya, kriya adalah seni yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial. Sebagai penopang kehidupan sosial.
”Kalau batik banyak digunakan oleh Wong Agung (orang terpandang) maka gerabah adalah sesuatu yang banyak keterlibatannya dengan Wong Cilik (orang kecil),” terang pecinta makanan tradisional Jawa itu.
Selama di Jogjakarta, Ponimin menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada, ISI Yogyakata. Di sana, dia sempat nyantrik atau berguru kepada Dosennya di ISI Yogyakarta, Drs. Narno S. Saat itu, dia tinggal bersama gurunya tersebut.
”Dari sana saya banyak belajar mengenai inovasi, kreativitas, kesabaran, dan kegigihan,” imbuhnya.
Kreasi Kriya Nusantara juga terus dikembangkan dari situ dengan bekal dan ilmu dari aktivitas nyantrik itu. Mulanya hanya dia sendiri, kemudian mulai merangkul perajin keramik di sana.
Tapi, jalannya tidak langsung mulus. Inovasi seniman kelahiran tahun 1965 tersebut sempat mendapat penolakan. Perajin keramik yang ditemui sempat tidak mau model karya miliknya diubah seperti masukan dari Ponimin.
Anak keempat dari empat bersaudara itu tidak menyerah. Tantangan itu malah membuatnya semakin termotivasi. Berjalannya waktu, usaha itu mulai mendapat apresiasi dari dua perajin, lalu bertambah menjadi delapan.
Saat itu, dia mulai menarik masa setelah para perajin mengetahui manfaat dari inovasi sebuah benda. Nilai suatu produk menjadi lebih tinggi dari hanya sekedar gerabah saja.
Pemilik motto hidup harus selalu terhubung dengan kreativitas itu melihat, gerabah atau produk tanah liat tidak naik nilainya tanpa kreativitas.
Kreasi dan keindahan akan membuat fungsinya berbeda dan naik kelas.
Pandangan dan keyakinan terkait seni kriya itu membuat Ponimin muda terus berkembang. Dia tidak sekadar memberi edukasi ke perajin di Desa Wisata Gerabah Jogjakarta. Lebih jauh, mulai menerima project dari luar negeri.
”Pada tahun 1989 saya pernah diminta menjadi Ketua Pelaksana Pekerjaan di Dewan Malaysia,” kenangnya. Pada waktu, dia diminta membuat interior dari tanah liat untuk gedung mereka.
Tak sekedar itu, lulusan Magister Seni kriya UGM itu juga pernah di percaya dosennya masuk tim dalam pembangunan joglo di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta. Joglo itu berada di ruang tunggu bandara.
Guru Besar Bidang Penciptaan dan Kajian Seni UM itu bahkan beberapa kali mewakili Indonesia untuk ikut pameran berskala internasional.
Seperti jadi penyaji pameran karya seni keramik dan narasumber workshop Festival Keramik Internasional di New Delhi India pada tahun 2017. Itu bertempat di Sankritikendra Museum Teracotta di New Delhi India.
”Di sana presentasi keramik kendi kontemporer di depan sekitar 70 seniman India,” ujarnya.
Sebelumnya, dia juga turut dalam Komite Blue Trust Pottery New Delhi di Galeri Habitat Centre New Delhi India. Dengan karyanya, Distruction Of King Rahwana pada tahun 2009.
Dulu Ponimin pernah terpilih mewakili Pemuda Jogjakarta untuk berangkat ke Jepang pada tahun 1989 dan 1992. Lalu mewakili Indonesia dalam Pameran Internasional Program WTM World Travel London UK Market di Inggris pada tahun 2014.
”Pernah juga menjadi pencipta dan penyaji karya seni mewakili Indonesia pada pada pameran UK International Ceramic Festival in Aberystwyth tahun 2011”, terangnya.
Di Negeri Ratu Elizabeth itu dirinya, pameran sekaligus menjadi pemateri dalam workshop keramik. Saat itu, mengusung judul Ten Character Of Human Face-Teracotta Mask Dance.
Negara Timur Tengah juga pernah dijajaki Ponimin untuk pameran. Salah satunya, gelar karya di Al-Janadriyah Festival di Riyadh Arab Saudi. Itu pada tahun 2018-2019.
Selama pameran di luar negeri, dia selalu datang jauh-jauh hari. Sering satu bulan atau satu minggu sebelum pameran. ”Jadi supaya bisa membuat karya dulu dan pernah punya pengalaman karya yang dikirim pecah,” terangnya.
Tahun ini, Ponimin akan mengirim karya ke Makkah tempatnya ke Sekolah Indonesia Makkah (SIM). Itu merupakan program pengabdiannya yang didanai Universitas Negeri Malang. Karyanya kali ini berupa kain batik kreasi antara motif Indonesia dengan kekhasan Makkah.
”Sudah dibuat sekitar sepuluh desain yang nantinya akan dipilih langsung pihak sekolah,” tuturnya. Lalu akan diperagakan di seragam siswa. Program pengabdian lainnya berupa proyek di desa wisata. (gp/*)
Editor : A. Nugroho