Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (9): Masjid Al-Mukhlisin Jadi Saksi Bisu Dakwah Mbah Matsari

Bayu Mulya Putra • Minggu, 9 Maret 2025 | 18:50 WIB

CERITA PANJANG: Mihrab kuno di Masjid Al-Mukhlisin (sebelah kiri) tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan kepada sosok Mbah Matsari.
CERITA PANJANG: Mihrab kuno di Masjid Al-Mukhlisin (sebelah kiri) tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan kepada sosok Mbah Matsari.

Jejak murid Pangeran Diponegoro juga ditemukan di Dusun Macari, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu. Nama dusun itu terinspirasi dari sosok Mbah Matsari. Beliau pernah berdakwah sambil mengelola kebun kopi di sana.

NABILA AMELIA

Pada zaman dulu, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu dikenal sebagai tempat para petinggi kerajaan beristirahat.

Dikutip dari situs Desa Pesanggrahan, raja, adipati, dan penggawa Kerajaan Mataram sering mandi di sumber mata air panas Songgoriti.

Saat itu, kawasan di sana lekat dengan agama Hindu.

Salah satunya di kawasan yang sekarang disebut dengan Jalan Lahor.

Bukti pengaruh agama Hindu di sana diketahui dari penemuan Patung Brahmacari.

Kondisi itu berubah setelah Mbah Matsari datang pada 1830-an.

Dia merupakan salah satu murid dari Pangeran Diponegoro.

Pada era tersebut, Pangeran Diponegoro mengutus murid dan pasukannya untuk menyebar ke seluruh penjuru Jawa.

Tepatnya setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dalam perundingan bersama Jenderal Hendrikus Merkus de Kock dan pasukan Belanda.

Beberapa pengikut Pangeran Diponegoro akhirnya memilih Kota Batu sebagai jujukan.

Misalnya saja Mbah Wastu yang pergi ke kawasan yang sekarang dikenal dengan Kecamatan Bumiaji.

Selanjutnya, Mbah Matsari memilih kawasan di Desa Pesanggrahan karena dekat blumbang atau kolam kuno.

Sejak kedatangan Mbah Mat sari, penyebaran Islam berlangsung secara perlahan-la han.

Dia mulai melakukan syiar Islam dengan menjadi guru ngaji.

”Para pemuda dan anak-anak se tempat diajak untuk mengaji hingga beribadah,” kata Ketua Takmir Masjid Al Mukhlisin Choirul Anam.

Untuk mewadahi aktivitas keagamaan di sana, Mbah Matsari membangun surau.

Surau itu berada tak jauh dari blumbang agar memudahkan orang-orang yang ingin ber suci.

Pembangunan surau berlangsung sekitar tahun 1831.

Saat pertama kali dibangun, Mbah Matsari menggunakan material yang sederhana seperti anyaman bambu.

Di sana, Mbah Matsari juga menjadi petani kopi.

Kebun kopi yang dikelolanya cukup luas.

Meliputi Jalan Lesti, Alun-Alun Kota Batu, hingga Kelurahan Ngaglik dekat Museum Angkut.

Setiap selesai bertani kopi, Mbah Matsari bersama para pekerja kerap membersihkan diri di blumbang.

Para pekerja itu juga mendapat pembelajaran agama Islam darinya.

Selama menetap di sana, Mbah Matsari sempat berhaji.

Selepas pulang menunaikan ibadah Haji, Mbah Matsari lebih dikenal dengan nama KH Zakaria.

Dalam perkembangannya, surau yang dibangun oleh Mbah Matsari akhir nya direnovasi menjadi masjid oleh masyarakat setempat.

Renovasi pertama berlangsung pada 1950.

Lalu tahun 1975, 1996, dan terakhir 2014.

Renovasi total terjadi pada tahap ketiga.

Kendati demikian, beberapa bagian bangunan masih dipertahankan.

Di antaranya bangunan pilar hingga cekungan mihrab kuno atau ruang imam.

Walaupun, saat ini takmir sudah menggunakan mihrab baru yang lebih luas.

Saat renovasi tahap ketiga, ada kisah menarik yang diingat Choirul.

Saat itu, tersisa peninggalan masa lampau berupa roda tank dari lempengan besi yang tertutup bebatuan.

Sisa roda tank itu digunakan sebagai keset di serambi masjid.

Kisah menarik lainnya saat ada warga yang berencana memotong pilar masjid.

Dari pilar masjid yang berbahan dasar kayu jati itu keluar seikat lidi.

Namun tidak diketahui asal muasal lidi itu hingga sekarang.

Saat ini, sebagian besar bangunan masjid sudah diganti dengan pilar cor.

Pada 1885 Mbah Matsari wafat.

Dia dikebumikan bersama sosok-sosok yang diduga keluarganya di pemakaman umum di Jalan Lesti.

Di dekat sana terdapat pohon loa berukuran besar.

Kini, makam tersebut dirawat dan sering dikunjungi warga untuk berziarah.

”Area makam yang digunakan untuk makam Mbah Matsari sekarang juga diwakafkan untuk pemakaman umum,” imbuh Choirul.

Meski sudah tiada, jejak Mbah Matsari masih dikenang warga setempat. Sebab, Jalan Lahor kini banyak dikenal sebagai kampung santri. Letak jalan tersebut kini berada di dusun yang disebut Macari, yang merupakan serapan dari nama Mbah Matsari.

Selanjutnya ada blumbangan yang sekarang disebut Ekoriparian Macari.

Ekoriparian tersebut kerap digunakan untuk berenang dan airnya tetap dimanfaatkan oleh warga sekitar.

Selain itu, warga setempat juga masih mempertahankan nilai-nilai keislaman.

Seperti dengan menggelar kegiatan keagamaan rutin di Masjid Al-Mukhlisin. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#jejak penyebaran islam #malang raya #mbah matsari #Sosok #batu