WONOSARI - Dalam pertanian modern, media tanam yang digunakan tak melulu tanah.
Penggunaan sistem hydroponic menjadi alternatif budidaya tanaman dan sayuran dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Seperti yang dikembangkan petani milenial dari Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari Hagusman Priyo Santoso.
Pria 37 tahun ini berhasil melakukan budidaya melon menggunakan sistem hydroponic.
Terlihat di kebunnya yang dipenuhi tanaman melon, bagian akar tanaman merambat tersebut langsung terhubung dengan pipa-pipa air.
Priyo mengaku mulai menekuni bertani hydroponic sejak tahun 2018.
“Waktu itu sayuran selada,” katanya.
Baru setahun setengah belakangan ini dia beralih ke melon karena dirasa permintaan cukup tinggi.
Dengan sistem hidroponik, tanaman melon tumbuh subur dan hasil buahnya sangat bagus.
Karena itu, hasil panen melon banyak dikirim ke sentra buah dan supermarket.
Jenis melon yang ditanam adalah honey globe dan golden aroma.
Yang paling menggiurkan adalah dari segi harga jualnya.
Biasanya, melon lokal hanya dihargai sekitar Rp 9.000 per kilogram dari petani.
Sementara melon yang ia jual bisa menyentuh harga sampai Rp 25 ribu per kilogram.
“Bisa sampai Rp 35 ribu di tangan konsumen,” katanya.
Meski memiliki harga jual yang cukup tinggi, Priyo mengaku tak kesulitan.
Bahkan supplier yang biasa mengambil hasil panennya merasa kurang-kurang.
Karena itu, bertani melon dirasa cukup menjanjikan.
Kolaborasi antara hidroponik dan green house dirasa cukup cocok pada tanaman melon.
Green House mencegah tanaman melon terkena hama dan penyakit.
Serta melindunginya dari musuh utama melon yakni hujan.
Meski musim hujan, dengan green house peluang panen masih sangat besar.
Ia juga menceritakan ada petani melon yang gagal panen karena hujan.
“Kena hujan tiga hari hancur semua,” katanya.
(iza/nay)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana