MALANG, RADAR BATU – Indonesia terletak di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) sekaligus titik temu tiga lempeng tektonik besar dunia, menjadikannya salah satu negara dengan tingkat aktivitas seismik tertinggi di dunia. Berdasarkan catatan geologi, wilayah Nusantara menyumbang sekitar 12-15 persen dari total aktivitas gempa bumi secara global, dengan hampir 77 persen penduduk Indonesia bermukim di zona kerentanan guncangan tinggi hingga sangat tinggi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini mengungkap temuan sesar aktif baru yang melintasi wilayah Surabaya, dengan potensi gempa maksimum magnitudo 6,7. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci sejumlah jalur sesar di Jawa Timur.
Baca Juga: BMKG Ingatkan Potensi Megathrust Selat Sunda M8,9, Ini Daftar Persiapan Darurat yang Perlu Disiapkan
"Jalur patahan di Jawa Timur terlihat sebagai berikut, terdapat sesar yang melewati wilayah Surabaya dengan nama Sesar Java Back-arc thrust Surabaya," ujar Ardhasena.
Selain sesar Surabaya, wilayah Jawa Timur turut memiliki sesar Pasuruan dengan potensi maksimum magnitudo 6,4, serta sesar RMKS-Baliga dan RMKS-Somorkoneng di Bangkalan dengan potensi maksimum masing-masing magnitudo 6,7 dan 6,5. Peta sumber dan bahaya gempa ini diterbitkan BMKG sebagai landasan ilmiah bagi pemerintah daerah dalam merancang tata ruang dan infrastruktur bangunan tahan gempa.
Di wilayah Jawa Barat, BMKG Bandung mencatat 195 kejadian gempa sepanjang Agustus 2026, dengan gempa terbesar berkekuatan magnitudo 5,3 terjadi di Pangandaran. Sesar Cimandiri tercatat sebagai salah satu sesar aktif tertua dan paling dikenal di provinsi tersebut.
Sejumlah wilayah lain di Indonesia turut menjadi zona rawan gempa berdasarkan jalur sesar historisnya masing-masing. Di Sulawesi Tengah dan Selatan, Sesar Palu-Koro tetap menjadi ancaman nyata, sebagaimana dibuktikan gempa magnitudo 6,7 yang mengguncang Palu pada Juni 2026. Di Papua dan Papua Barat, jalur patahan Mamberamo serta sesar naik Papua Tengah terus menunjukkan akumulasi tekanan akibat penunjaman Lempeng Indo-Australia yang bergerak sekitar 5-7 sentimeter per tahun. Sementara di Sumatra, Sesar Besar Sumatra (Sesar Semangko) yang membentang dari Aceh hingga Teluk Semangka, Lampung, terus menjadi ancaman utama di sepanjang pulau tersebut.
Dalam sepekan terakhir, aktivitas gempa signifikan turut tercatat di berbagai wilayah. BMKG mencatat gempa bermagnitudo 6,2 mengguncang wilayah 42 kilometer timur laut Pulau Doi, Maluku Utara, pada Senin (14/9/2026) pukul 17.58 WIB, dengan kedalaman 145 kilometer.
BMKG mengimbau masyarakat di seluruh wilayah rawan gempa untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan memahami langkah mitigasi dasar, tanpa perlu menimbulkan kepanikan berlebihan, mengingat karakteristik geologis Indonesia yang memang secara alami rentan terhadap aktivitas seismik.
Editor : Aditya NovrianSumber : Dikutip dari Berbagai Sumber