BATU, RADAR BATU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Kota Batu tidak hanya mengancam vegetasi. Dampaknya juga dapat meluas ke sektor wisata dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi ketika musim hujan tiba.
Kebakaran sekitar 400 hektare di kawasan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang berada di wilayah administratif Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Hingga kini, penyebab pastinya belum ditentukan.
Meski berada di luar wilayah Kota Batu, dampaknya ikut dirasakan sektor wisata. Pendakian Gunung Butak, Panderman, dan Bokong sempat ditutup karena pertimbangan keselamatan.
Baca juga: X-Men Reboot MCU Menargetkan Tayang 5 Mei 2028, Ini Detail Proyeknya - Radar Batu
Pemerhati lingkungan Universitas Katolik Widya Karya Dr. Ir. Anna Catharina Sri Purna Suswati, M.Si. mengatakan, penyebab karhutla dapat berasal dari faktor alam maupun aktivitas manusia.
Namun, kejadian di lapangan sering berkaitan dengan kelalaian dalam menggunakan api. Puntung rokok, sisa api unggun, atau pembakaran material kering dapat menjadi sumber titik api.
Kondisi kemarau membuat daun dan ranting kering menjadi bahan bakar. Angin kemudian mempercepat penyebaran api.
Baca Juga: Terlilit Utang, Perempuan Asal Lumajang Bobol Rumah Kosong di Bumiaji Batu - Radar Batu
“Untuk memastikan penyebabnya, harus diketahui terlebih dahulu apa yang menjadi pemicu munculnya titik api pertama kali,” jelas dosen Teknik Sipil Universitas Katolik Widya Karya itu.
Menurut Anna, dampak karhutla tidak berhenti pada vegetasi yang terbakar. Kerusakan tutupan lahan dapat mengganggu fungsi tanah dan meningkatkan risiko erosi ketika hujan turun.
Kebakaran dapat membentuk lapisan tanah yang sulit menyerap air. Akibatnya, limpasan permukaan meningkat saat hujan. Lapisan tanah subur juga dapat tergerus dan terbawa ke sungai sehingga memicu sedimentasi.
Baca Juga: X-Men Reboot MCU Menargetkan Tayang 5 Mei 2028, Ini Detail Proyeknya - Radar Batu
“Akibatnya, ketika musim hujan tiba, limpasan air menjadi tinggi, lapisan humus yang subur tergerus erosi, lalu memicu sedimentasi di sungai, hingga berujung pada bencana banjir,” katanya.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup mengandalkan pemadaman. Pencegahan perlu dilakukan melalui pengendalian sumber api, pengawasan kawasan rawan, dan penataan wilayah yang berbatasan langsung dengan hutan.
Anna mendorong pembangunan fire break atau jalur pemisah untuk memperlambat laju api. Kawasan penyangga juga dapat diperkuat dengan tanaman yang memiliki ketahanan terhadap panas.
Baca Juga: Karhutla Kota Batu Dipicu Pembakaran Sembarangan - Radar Batu
Selain itu, kawasan penyangga harus mampu mempertahankan kandungan air. Bangunan dan kawasan terbangun di sekitar hutan perlu memperhatikan ketersediaan air, akses pemadaman, serta penggunaan material yang tidak mudah terbakar.
Menurut Anna, langkah preventif lebih murah dibandingkan memulihkan kerusakan setelah kebakaran meluas.
Editor : Fajar Andre Setiawan