Karhutla Kota Batu Dipicu Pembakaran Sembarangan

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 14:41 WIB
PEMADAMAN: Karhutla di Gunung Butak sudah padam, tetapi masih ada sisa-sisa bara api di batang pohon. (POLRES BATU FOR RADAR BATU)
PEMADAMAN: Karhutla di Gunung Butak sudah padam, tetapi masih ada sisa-sisa bara api di batang pohon. (POLRES BATU FOR RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Dua kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat di Kota Batu sepanjang 2026. Keduanya diduga dipicu kelalaian manusia. Salah satu kebakaran menghanguskan sekitar 0,5 hektare lahan di Jalan Raya Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji.

Sementara itu, kejadian lainnya membakar sekitar 6 meter persegi serasah di kawasan Payung. Api dalam dua kejadian tersebut diduga bermula dari aktivitas pembakaran material kering yang ditinggalkan tanpa pengawasan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Doddy Faturrachman mengatakan, pola dua kebakaran tersebut hampir serupa. “Di kawasan Payung itu hanya serasah di pinggir jalan, akhirnya merambat ke tebing,” ujarnya.

Baca Juga: Terlilit Utang, Perempuan Asal Lumajang Bobol Rumah Kosong di Bumiaji Batu - Radar Batu

Kebakaran di kawasan Payung dipicu warga yang membakar sampah di pinggir jalan. Api kemudian merambat karena material di sekitarnya mudah terbakar. Beruntung, api belum sempat masuk ke dalam hutan.

Kasus lainnya terjadi pada 10 Juli 2026 sekitar pukul 14.15 di kawasan rumpun bambu Jalan Raya Pandanrejo. Api membakar lahan sekitar 0,5 hektare.

Hasil asesmen awal menunjukkan, kebakaran diduga bermula dari pembakaran sisa ranting dan bambu kering hasil pemotongan. Material tersebut kemudian ditinggalkan tanpa pengawasan.

Baca Juga: Dulu Digugat, Kini Gandeng Label Musik: AI Suno Mulai Berdamai dengan Musisi - Radar Batu

Tiupan angin membuat api cepat membesar dan merambat ke rumpun bambu di sekitarnya. Petugas BPBD segera melakukan pemadaman sehingga api tidak meluas.

Doddy mengimbau masyarakat tidak membakar sampah, ranting, bambu, atau vegetasi kering secara sembarangan. Risiko kebakaran meningkat ketika cuaca panas disertai angin kencang.

“Karena itu, kami mengimbau masyarakat supaya tidak membakar sisa ranting bambu atau vegetasi kering secara sembarangan,” katanya.

Dua kejadian tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla di Kota Batu tidak selalu bermula dari api besar. Pembakaran kecil yang ditinggalkan tanpa pengawasan dapat berkembang ketika bertemu material kering, kemarau, dan angin.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Kelalaian kebakaran hutan kebakaran karhutla BPBD