BATU, RADAR BATU - Tiga kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat di Kota Batu sepanjang 2026 hinga kemarin (13/9). Ketiganya diduga murni dipicu kelalaian manusia. Salah satu kebakaran menghanguskan sekitar 0,5 hektare lahan di Jalan Raya Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji. Sedangkan, kejadian lainnya membakar sekitar 6 meter persegi serasah di kawasan Payung dan 500 meter persegi lahan di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo.
Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Doddy Faturrachman mengatakan dua kejadian tersebut memiliki pola serupa. Api bermula dari aktivitas pembakaran material kering yang ditinggalkan tanpa pengawasan. “Di kawasan Payung itu hanya serasah di pinggir jalan, akhirnya merambat ke tebing,” ujarnya.
Beruntung api belum sempat masuk ke dalam hutan. Kebakaran di kawasan Payung dipicu warga yang membakar sampah di pinggir jalan. Api kemudian merambat karena material di sekitarnya mudah terbakar. Meski luas area terdampak kecil, kejadian tersebut menunjukkan celah kebakaran tetap terbuka ketika aktivitas pembakaran dilakukan sembarangan.
Baca Juga: Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Bagikan Potongan Gambar Untuk Audiens - Radar Batu
Kasus lainnya terjadi pada 10 Juli 2026 sekitar pukul 14.15 di kawasan rumpun bambu Jalan Raya Pandanrejo. Api membakar lahan sekitar 0,5 hektare. Hasil asesmen awal menunjukkan kebakaran diduga bermula dari pembakaran sisa ranting dan bambu kering hasil pemotongan. Lalu, material tersebut ditinggalkan tanpa pengawasan.
Tiupan angin kemudian membuat api cepat membesar dan merambat ke rumpun bambu di sekitarnya. Petugas BPBD segera melakukan pemadaman sehingga api tidak meluas. Namun, pola kejadian tersebut menjadi peringatan. Sebab, vegetasi kering selama musim kemarau dapat membuat api berkembang dalam waktu singkat.
Doddy mengimbau masyarakat tidak membakar sampah, ranting, bambu, atau vegetasi kering secara sembarangan. Risiko semakin tinggi ketika cuaca panas disertai angin kencang. “Karena itu, kami mengimbau masyarakat supaya tidak membakar sisa ranting bambu atau vegetasi kering secara sembarangan,” katanya.
Baca Juga: Dulu Digugat, Kini Gandeng Label Musik: AI Suno Mulai Berdamai dengan Musisi - Radar Batu
Sementara itu, karhutla dengan luas lebih besar terjadi di sekitar Kota Batu. Kebakaran sekitar 400 hektare di kawasan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang berada di wilayah administratif Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Hingga kini penyebab pastinya belum ditentukan.
Meski berada di luar daerah, dampaknya ikut dirasakan sektor wisata Kota Batu. Pendakian Gunung Butak, Panderman, dan Bokong sempat ditutup karena pertimbangan keselamatan. Pemerhati lingkungan Universitas Katolik Widya Karya Dr Ir Anna Catharina Sri Purna Suswati MSi mengatakan penyebab karhutla bisa berasal dari alam dan aktivitas manusia.
Namun, kejadian di lapangan sering kali berkaitan dengan kelalaian dalam menggunakan api. Puntung rokok, sisa api unggun, atau pembakaran material kering dapat menjadi sumber titik api. Kondisi kemarau membuat daun dan ranting kering menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Angin kemudian mempercepat penyebaran api.
Baca Juga: Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Bagikan Potongan Gambar Untuk Audiens - Radar Batu
“Untuk memastikan penyebabnya, harus diketahui terlebih dahulu apa yang menjadi pemicu munculnya titik api pertama kali,” jelas dosen Teknik Sipil Universitas Katolik Widya Karya itu. Dampak karhutla juga tidak berhenti pada vegetasi yang terbakar. Kerusakan tutupan lahan dapat mengganggu fungsi tanah dan meningkatkan risiko erosi ketika hujan turun.
Menurut Anna, kebakaran dapat membentuk lapisan tanah yang sulit menyerap air. Ketika musim hujan datang, limpasan permukaan meningkat. Lapisan tanah subur dapat ikut tergerus dan terbawa ke sungai sehingga memicu sedimentasi.
“Akibatnya, ketika musim hujan tiba, limpasan air menjadi tinggi, lapisan humus yang subur tergerus erosi, lalu memicu sedimentasi di sungai, hingga berujung pada bencana banjir,” katanya. Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup mengandalkan pemadaman.
Baca Juga: Terlilit Utang, Perempuan Asal Lumajang Bobol Rumah Kosong di Bumiaji Batu - Radar Batu
Pencegahan harus dimulai dari pengendalian sumber api, pengawasan kawasan rawan, hingga penataan wilayah yang berbatasan langsung dengan hutan. Anna mendorong pembangunan fire break atau jalur pemisah untuk memperlambat laju api. Kawasan penyangga juga dapat diperkuat dengan tanaman yang memiliki ketahanan terhadap panas.
Selain itu, kawasan peyangga juga harus mampu mempertahankan kandungan air. Bangunan dan kawasan terbangun di sekitar hutan juga perlu memperhatikan ketersediaan air, akses pemadaman, serta penggunaan material yang tidak mudah terbakar. Menurut dia, langkah preventif lebih murah dibandingkan memulihkan kerusakan pascakebakaran meluas.
Dua kejadian di Kota Batu menunjukkan ancaman karhutla tidak selalu bermula dari api besar. Pembakaran kecil yang ditinggalkan tanpa pengawasan pun dapat berkembang ketika bertemu kemarau dan angin. Karena itu, pencegahan paling awal justru berada pada disiplin masyarakat dalam menggunakan api.
Editor : Fajar Andre Setiawan