BATU, RADAR BATU - Dua puluh dua tahun berlalu sejak aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib meninggal dalam penerbangan menuju Amsterdam. Namun, pengungkapan dalang di balik pembunuhannya masih menjadi tuntutan para aktivis yang menggelar ziarah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, kemarin (7/9).
Munir meninggal pada 7 September 2004 setelah diracun arsenik dalam penerbangan. Alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu hingga kini masih dikenang sebagai pejuang HAM. Puluhan mahasiswa dan aktivis se-Malang Raya mengikuti ziarah dengan mengenakan pakaian serba hitam.
Mereka berdoa, membentangkan poster, menyampaikan orasi, lalu menaburkan bunga di pusara Munir. Komite Aksi Kamisan Malang Arifin Ilham mengatakan, ziarah tersebut menjadi momentum untuk merawat ingatan atas perjuangan Munir.
“Sudah sepatutnya kami memberikan penghormatan dan mempersembahkan peringatan ini atas seluruh perjuangan HAM yang beliau wariskan,” ungkapnya. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian September Hitam.
Selain ziarah, aktivis menggelar diskusi publik dan pameran seni untuk menyuarakan penyelesaian berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia. “Termasuk kasus Cak Munir, kami menegaskan akan terus menuntut pengusutan hingga tuntas,” tegasnya.
Ilham mendesak pemerintah menetapkan pembunuhan Munir sebagai pelanggaran HAM berat. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar kasus itu tidak berhenti tanpa pengungkapan menyeluruh.
Dia juga menyinggung sejumlah kasus HAM lain yang belum memperoleh kejelasan, termasuk Tragedi Kanjuruhan. “Tentu harapan besar kami, tidak ada lagi korban atau kasus pelanggaran HAM baru yang terjadi di negeri ini,” pungkasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan