Terkuak, Ini Penyebab Sebenarnya Banjir Bandang Dahsyat Nepal-Tibet yang Tewaskan Ratusan Orang

Nara Amelia • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 19:15 WIB
Kondisi permukiman warga di Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, usai diterjang banjir bandang, Kamis (27/8/2026). Foto: Prakash Mathema
Kondisi permukiman warga di Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, usai diterjang banjir bandang, Kamis (27/8/2026). Foto: Prakash Mathema

BATU, RADAR BATU - Ilmuwan akhirnya mengungkap penyebab pasti di balik banjir bandang mengerikan yang melanda perbatasan Nepal dan Tibet, China, Rabu (26/8). Berdasarkan analisis terbaru US Geological Survey (USGS), bencana ini dipicu oleh runtuhnya bagian gletser di kawasan tinggi Pegunungan Himalaya, bukan disebabkan gempa bumi maupun jebolnya bendungan seperti dugaan awal.

Kejadian bermula sekitar pukul 08.40 waktu setempat, saat gletser runtuh dan menghasilkan longsoran es serta batu dalam jumlah masif. Material tersebut meluncur deras melalui Sungai Lhende Khola, sekitar 20 kilometer timur laut dari perlintasan perbatasan Nepal-China, sebelum akhirnya menghantam Pelabuhan Gyirong di Tibet dan meluas ke wilayah Nepal.

Menariknya, laporan awal sempat menyebut gempa berkekuatan magnitudo 4,4 sebagai pemicu keruntuhan gletser. Namun USGS mengoreksi analisis tersebut, menegaskan sinyal seismik yang tercatat sebenarnya berasal dari longsoran itu sendiri, bukan aktivitas gempa tektonik. Longsoran ini bahkan menghasilkan energi setara gempa magnitudo 5,2.

Pakar geofisika dari Earth Observatory Universitas Columbia, Goran Ekstrom, menjelaskan longsoran material tersebut menghasilkan volume air luar biasa besar yang mengalir cepat ke lembah. Ketinggian banjir diperkirakan mencapai 39-48 meter, dengan kecepatan aliran sekitar 71 kilometer per jam.

Sempat muncul dugaan bahwa material longsoran membendung Sungai Lhende hingga membentuk danau, yang kemudian jebol dan memicu banjir susulan atau dikenal sebagai fenomena glacial lake outburst flood (GLOF). Namun pakar bencana dari Universitas Tribhuvan, Basanta Raj Adhikari, menilai teori ini masih minim bukti, karena tidak tercatat adanya penurunan debit air sungai sebelum banjir meluap.

Ekstrom turut menyoroti kemungkinan peran perubahan iklim dalam memperparah bencana ini. Perubahan iklim dinilai mempercepat pencairan gletser di berbagai wilayah dunia, sehingga meningkatkan risiko dan dampak ketika longsoran serupa terjadi di masa depan.

Baca Juga: Banjir Bandang Dahsyat Landa Perbatasan Nepal-Tibet, Ratusan Tewas dan Ratusan Wisatawan Hilang

Hingga kini, otoritas Nepal mencatat sedikitnya 469 orang tewas, dengan sekitar 910 orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk 517 wisatawan mancanegara. Di sisi Tibet, China, sebanyak 558 orang, termasuk 260 warga negara asing, juga belum ditemukan.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dari berbagai sumber
nepal tsunami gempa Banjir Bandang