BATU, RADAR BATU – Kemarau panjang mulai berdampak terhadap sektor pertanian di Kota Batu. Sejumlah petani terpaksa menambah frekuensi penyiraman karena tanaman lebih cepat layu saat suhu tinggi dan hujan belum turun. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu pun mulai mewaspadai potensi kekeringan lahan pertanian.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Gatot Noegroho mengatakan kekeringan hingga kini belum mengganggu kebutuhan air masyarakat untuk keperluan rumah tangga. Namun, kondisi berbeda terjadi pada lahan pertanian yang sangat bergantung pada pasokan air irigasi.
“Dampak kekeringan tidak langsung ke orang atau jiwanya. Namun, pernah terjadi kekeringan di lahan pertanian, sehingga hal tersebut juga perlu diwaspadai,” ujarnya. Menurut Gatot, risiko kekeringan semakin besar apabila suhu tinggi berlangsung dalam waktu lama tanpa disertai hujan. Kondisi tersebut dapat membuat sumber air untuk pertanian dan irigasi berkurang.
Baca Juga: Selain Kawah Bromo, Ini 3 Spot Alam di Malang yang Tak Kalah Memesona - Radar Batu
Dampaknya mulai dirasakan petani. Tanaman yang biasanya cukup disiram sekali sehari kini membutuhkan penyiraman lebih sering agar tetap bertahan. “Yang biasanya penyiraman dilakukan satu kali, saat kemarau panjang harus dua kali supaya tanamannya tetap bertahan hidup,” katanya.
Meski belum membutuhkan distribusi air bersih untuk permukiman, Pemkot Batu telah menerbitkan SK Siaga Darurat Karhutla dan Kekeringan. Kebijakan tersebut menjadi dasar pemerintah memperkuat koordinasi menghadapi potensi kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan.
Editor : Fajar Andre Setiawan