BATU, RADAR BATU - Sepanjang jalan protokol Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu mendadak bergemuruh riuh kemarin (22/6). Ribuan masyarakat dan wisatawan menyemut demi menyaksikan agenda tahunan Ngarak Banteng Mpu Supo. Gelaran budaya tradisional ke-18 dalam rangka memperingati Bulan Sura ini diramaikan 50 kontingen seni bantengan.
Aura sakral berpadu dengan kemeriahan begitu terasa di sepanjang rute arak-arakan. Menariknya, partisipan tidak hanya datang dari lingkup Malang Raya. Namun, juga menarik minat sejumlah kelompok seni dari wilayah Kediri, Blitar, Jombang, Trenggalek, hingga Mojokerto untuk unjuk kebolehan di hadapan publik pariwisata Kota Batu.
BACA JUGA: Petani Kota Batu Tinggalkan Pupuk Subsidi, Rela Keluarkan Modal Lebih Besar demi Selamatkan Panen
Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Onny Ardianto mengungkapkan Ngarak Banteng Mpu Supo kali ini memiliki esensi strategis sebagai media promosi wisata budaya unggulan. Selain sebagai wujud nyata pelestarian tradisi leluhur, acara ini diproyeksikan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan secara masif.
“Saya berharap kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi tontonan musiman, melainkan mampu menjadi percontohan utama bagi agenda wisata budaya daerah,” ujarnya. Dari tahun ke tahun, Onny mencatat animo penonton selalu berhasil menyedot kedatangan wisatawan lokal hingga masyarakat dari wilayah irisan seperti Kabupaten Malang.
BACA JUGA: Harga BBM Naik, Pendapatan Ojol di Kota Batu Turun
Kemeriahan dan kemandirian para seniman itu turut mendapat apresiasi dari Wali Kota Batu Nurochman. Orang nomor satu di Pemkot Batu itu mengaku bangga dapat menjadi bagian dari ekosistem kesenian bantengan di wilayahnya. Dia menegaskan antusiasme dalam melindungi akar budaya merupakan jati diri masyarakat yang harus terus diangkat.
BACA JUGA: rorOmzet Anjlok Drastis, Begini Strategi Penjual Daging Sapi di Pasar Induk Among Tani Kota Batu
“Kami pun berkomitmen untuk terus melahirkan kebijakan-kebijakan yang berpihak agar seluruh elemen seni dan budaya di Kota Batu benar-benar mendapatkan porsi dan merasakan kehadiran pemerintah,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Kota Batu tidak seharusnya sekadar menjual destinasi wisata alam atau wahana buatan semata.
Kekayaan budaya lokal dinilainya sebagai fondasi kuat yang wajib dijaga, difasilitasi oleh pemerintah, dan diwariskan secara turun-temurun kepada generasi penerus. Selain menjaga tradisi, momentum gelaran budaya ini terbukti menjadi penggerak ekonomi warga. Sebab, kedatangan wisatawan berdampak langsung pada omzet pelaku UMKM di Songgoriti.
“Pemerintah daerah berharap kebersamaan dalam melestarikan seni ini dapat terus terjaga dan semakin matang pada tahun-tahun berikutnya,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan