MALANG, RADAR BATU – Fenomena penurunan suhu dingin ekstrem yang akrab disebut dengan fenomena bediding oleh masyarakat Jawa tengah melanda wilayah Malang Raya.
Menariknya, jika tahun-tahun sebelumnya kedatangan suhu dingin di tengah musim kemarau ini menjadi momen yang paling dinanti. Namun, kali ini yak hanya menjadi momen yang ditunggu, keluhan juga mulai bermunculan di tengah warga setempat.
Keluhan warga Malang Raya marak membanjiri platform media sosial seperti Instagram dan X. Berbagai reaksi tersebut mencuat setelah akun Instagram @amazingmalang mengabarkan bahwa fenomena bediding akan melanda hingga Agustus 2026, memicu banjir komentar di kolom unggahan.
Baca Juga: Bediding Kembali Menyapa, Warga Malang Raya Keluhkan Dingin Menusuk Tulang
“Malang adem tenan, nganti ra adus, raup tok,” (Malang dingin banget, sampai tidak mandi) tulis @niki********
“gak adus, salah adus sanyang nyowo.” (gak mandi, saying nyawa) tulis @lana*********
Berdasarkan data operasional Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), penurunan suhu udara di Malang Raya kali ini memang terasa jauh lebih menggigit. Suhu rata-rata pada pagi hari sekitar pukul 03.00—06.00 WIB dilaporkan anjol hingga menyentuh angka 17—18 derajat Celcius.
Kondisi tersebut terbilang kontras dengan suhu udara pada siang hari sekitar pukul 12.00—14.00 WIB, di mana suhu mulai naik ke kisaran 27—29 derajat Celcius.
Baca Juga: Suhu Dingin Bediding Melanda Malang Raya, BMKG Beberkan Penyebabnya
Pihak BMKG mengonfirmasi bahwa fenomena bediding merupakan hal yang lumrah terjadi saat wilayah Jawa memasuki musim kemarau. Penurunan suhu secara drastis tersebut dipicu oleh pergerakan angin muson Australia yang membawa masa udara kering dan dingin menuju Indonesia.
"Bediding merupakan kondisi dengan suhu lingkungan lebih dingin dibandingkan suhu normal, ini merupakan siklus musiman dan ditandai dengan aktifnya angin monsun timuran yang sifatnya kering dan dingin," kata Linda Fitrotul selaku Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur.
Selain itu, minimnya tutupan awan di malam hari membuat panas bumi lepas ke atmosfer secara maksimal, sehingga memicu penurunan suhu yang ekstrem pada dini hari.
Editor : Aditya Novrian