MALANG, RADAR BATU – Fenomena bediding kembali menyapa warga Malang Raya. Fenomena yang hadir setiap tahun ini terjadi di pertengahan musim kemarau. Meski cuaca sedang cerah, udara dingin yang cukup ekstrem berembus kencang, terutama pada malam hari menjelang pagi hari.
Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur di Kabupaten Malang dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memaparkan bahwa fenomena bediding terjadi karena pergerakan angin muson Astralia.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Linda Fitrotul di Malang memberi penjelasan terkait fenomena bediding, ia mengatakan bahwa pergerakan angin muson Australia tersebut membawa massa angin kering dan dingin menuju Indonesia.
Baca Juga: Dampak Fenomena Bediding, Malang Raya Diselimuti Suhu Dingin Ekstrem saat Dini Hari
"Bediding merupakan kondisi dengan suhu lingkungan lebih dingin dibandingkan suhu normal, ini merupakan siklus musiman dan ditandai dengan aktifnya angin monsun timuran yang sifatnya kering dan dingin," kata Linda.
Linda menyampaikan bahwa fenomena bediding ini membuat suhu udara rata-rata anjlok hingga mencapai 17—18 derajat Celsius, terutama pada dini hari menjelang pagi sekitar pukul 03.00 hingga 06.00 WIB.
Ia menambahkan bahwa suhu udara di pagi hari sekitar pukul 07.30 WIB menyentuh kisaran 22—25 derajat Celsius. Angka tersebut kemudian melonjak pada siang hari antara pukul 12.00 hingga 14.00 WIB dengan pergerakan suhu di sekitar 27—29 derajat Celsius.
Baca Juga: Suhu Dingin Bediding Melanda Malang Raya, BMKG Beberkan Penyebabnya
"Kalau malam hari akhir-akhir ini saat bediding tercatat 20-21 derajat Celsius," ujar Linda.
Berbeda dengan wilayah Malang Raya, Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung, Cilacap, Teguh Wardoyo, mengungkapkan bahwa di wilayah Cilacap turut mengalami fenomena bediding dengan penurunan suhu ekstrem di kisaran 24 derajat Celcius dan masih dalam kondisi normal secara klimatologis, tercatat pada (19/6).
"Kondisi ini merupakan fenomena alami yang umum terjadi pada musim kemarau," pungkasnya.
Editor : Aditya Novrian