MALANG, RADAR BATU – Fenomena bediding masih menghantui warga Malang Raya. Udara dingin menggigit tiba saat malam hari menjelang pagi hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena bediding ini yang disebabkan oleh menguatnya angin muson Australia. Akbitanya kelembapan udara dan suhu turun drastis pada malam hari.
Di balik selimut udara dingin yang menusuk tulang tersebut, terdapat 5 fakta ilmiah menarik yang perlu Anda ketahui seputar fenomena bediding berikut ini.
Baca Juga: Menggigil! Mengenal Fenomena Bediding di Balik Cuaca Dingin Ekstrem Malang Raya
- Angin Monsun Australia: Saat ini, Australia memasuki musim dingin. Kondisi tersebut menyebabkan tekanan udara di Benua Australia menjadi lebih tinggi dibanding wilayah Indonesia. Akibatnya, angin muson dingin Australia terbentuk dan bergerak dari Australia menuju Indonesia dengan membawa udara dingin dan kering. Hal tersebut mempengaruhi suhu udara di Indonesia, khususnya di wilayah Selatan yang semakin dingin.
- Minimnya Tutupan Awan: Berkurangnya awan di atmosfer menyebabkan panas matahari yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari tanpa ada penahan yang cukup.
- Gerak Semu Tahunan Matahari: Fenomena bediding juga disebabkan oleh kondisi menjauhnya posisi matahari dari garis khatulistiwa. Posisi matahari berada di belahan bumi utara, sehingga belahan bumi bagian Selatan tidak menerima banyak energi panas.
- Kondisi Langit yang Cerah: Memasuki musim kemarau, pembentukan awan di atmosfer menjadi sangat minim, sehingga langit terlihat jauh lebih bersih dan cerah. Kondisi minimnya awan di atmosfer ini lah yang menyebabkan panas di permukaan bumi lepas kembali ke angkasa tanpa adanya penghalang, sehingga proses penurunan suhu di malam hari berlangsung secara maksimal.
- Faktor Geologis atau Topografi: Malang Raya secara alami terletak di wilayah dataran tinggi dan dikepung dengan jejeran pegunungan. Struktur topografi ini akan memerangkap massa udara dingin, sehingga suhu udara di wilayah tersebut terasa jauh lebih menusuk dibandingkan kawasan dataran rendah.