BUMIAJI, RADAR BATU - Ketidaklengkapan informasi pada surat undangan membuat 214 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) terpaksa balik kanan saat hendak mencairkan bantuan sosial (bansos) di Balai Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji Rabu lalu (3/6). Alhasil, penyaluran jatah ganda berupa 20 kilogram beras dan empat liter minyak goreng yang dirapel untuk dua bulan tersebut akhirnya diwarnai kebingungan warga.
Kekacauan teknis di lapangan ini dipicu kelalaian panitia dalam mencantumkan daftar persyaratan dokumen secara utuh. Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Desa Tulungrejo Turiyanto membeberkan sekitar 50 persen warga terpaksa pulang dengan tangan kosong akibat informasi tidak lengkap di lembar undangan.
BACA JUGA: Ratusan Vila di Kota Batu Tiarap, Tarif Rp 80 Ribu Pun Tak Dilirik
Alhasil, para penerima yang didominasi warga prasejahtera tersebut harus bolak-balik ke rumah masing-masing demi melengkapi sisa berkas persyaratan. Padahal, antrean di lokasi sudah membeludak sejak pukul 09.00. “Minimnya validitas informasi berimbas langsung pada rendahnya serapan bantuan hingga batas penutupan loket pada sore hari,” ujarnya.
Kepala Seksi Bidang Pelayanan Desa Tulungrejo Morvan Chandra Bayu mencatat baru 216 orang yang sukses membawa pulang paket sembako mereka. Selain kendala berkas, benturan jam kerja warga juga dituding menjadi penyebab ratusan paket pangan tersebut masih tertahan di balai desa.
Mengantisipasi tumpukan logistik, otoritas desa akhirnya melonggarkan batas waktu dengan memberikan toleransi pengambilan hingga lima hari ke depan. Chandra, yang juga anggota Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), menegaskan sisa paket bansos yang tidak terambil akan dieksekusi secara door-to-door melalui pengurus RT dan RW.
BACA JUGA: Nilai Tertinggi Belum Menjamin Jadi Sekda Kota Batu, Keputusan Final Ada di Tangan Wali Kota
“Langkah sapu bersih ini diambil agar bantuan tetap sampai ke tangan masyarakat,” ungkapnya. Meski diwarnai salah urus administrasi, guyuran sembako rapelan ini tetap disyukuri oleh penerima.
Sutik, pria lansia berusia 72 tahun mengaku lega jatah dapurnya kembali terisi penuh. Baginya, bantuan pangan ini sangat krusial untuk menyambung hidup. “Bersyukur sekali apalagi harga kebutuhan pokok terus naik,” tandasnya. (Muhammad Afif Halimatul Mustofa/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan