JUNREJO, RADAR BATU - Akibat abai terhadap prosedur dan dosis herbisida, sebanyak 15 petani hortikultura di Kecamatan Junrejo gagal panen. Lahan sayur mereka menyisakan tanaman yang kerdil hingga mati total akibat keracunan residu kimia.
Muhammad Arifin, petani asal Desa Beji adalah salah satu korban kelalaian ini. Ia mengaku kehilangan modal Rp 1,2 juta. Itu terjadi setelah benih kembang kol alias brungkul miliknya mati mendadak.
Bencana ini bermula sepekan usai ia menyemprotkan obat rumput tanpa membaca pedoman pemakaian.
Arifin terpaksa melakukan detoksifikasi tradisional. Lahan tersebut direndam dengan air mengalir selama sebulan penuh. Tujuannya untuk mencuci residu herbisida. Kini kondisi tanahnya sudah berangsur normal. Lahan tersebut kini dialihfungsikan untuk menanam jagung manis. Umurnya sudah dua bulan serta siap panen minggu depan.
Baca Juga: Kerap Gagal Panen, Harga Andewi di Kota Batu Masih Tembus Rp 20 Ribu Per Kilogram
Kasus yang menimpa Arifin ternyata hanyalah puncak gunung es. Koordinator Lapangan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wilayah Junrejo, Sri Utami mencatat sedikitnya 15 laporan kerusakan lahan serupa. Insiden ini tersebar merata di tiga sentra pertanian, yakni Kawasan Klerek, Beji, dan Ngukir.
Dari hasil investigasi PPL, akar masalahnya seragam dan fatal. Petani secara serampangan mencampur herbisida kontak dengan herbisida berbahan aktif metil metsulfuron. Celakanya, kata Utami, bahan aktif tersebut dirancang khusus untuk membasmi gulma di lahan sawah padi yang tergenang air, bukan untuk lahan kering hortikultura.
Padahal, efek residu obat kimia ini mengendap kuat dan mengunci unsur hara tanah. Akibatnya, tanaman hortikultura akan terus kerdil hingga tiga atau empat kali musim tanam.
Baca Juga: Panen Tomat Terpangkas Separo Akibat Virus Gemini, Petani Kota Batu Rugi Jutaan Rupiah
Menyikapi kerusakan ekosistem tanah ini, Utami Menyusun protokol pemulihan yang harus segera dieksekusi para petani terdampak.
Langkah pertama Adalahpencucian lahan dengan menggenanginya menggunakan air sebanyak tiga hingga empat kali guna membilas sisa residu kimia secara tuntas. Selanjutnya, petani wajib melakukan injeksi dengan menyemprotkan cairan pembenah tanah, seperti EM4 atau M21, ke seluruh area lahan.
Hal itu krusial untuk menghidupkan kembali mikroorganisme tanah yang telanjur mati akibat paparan zat kimia keras. Fase pemulihan kemudian dilanjutkan dengan mengembalikan unsur hara yang hilang melalui penebaran pupuk organic berbahan dasar kotoran hewan peliharaan.
Sebagai langkah penutup, penaburan kapur dolomit menjadi syarat mutlak untuk menetralisasi sekaligus mengembalikan tingkat keasaman (pH) tanah ke angka ideal agar kembali layak tanam. Guna mencegah meluasnya krisis lahan ini, tim penyuluh Kota Batu kini turun langsung membagikan obat pembenah tanah secara gratis. (kr2/dre)
Editor : A. Nugroho