Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Infeksi Cacing Hati pada Hewan Kurban di Kota Batu Susut 50 Persen

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 28 Mei 2026 | 17:00 WIB
PEMERIKSAAN: Pemantauan kondisi fisik hewan ternak di Masjid Agung An Nuur Kota Batu. Kasus infeksi cacing hati mencatatkan tren penurunan signifikan pada Idul Adha tahun ini.
PEMERIKSAAN: Pemantauan kondisi fisik hewan ternak di Masjid Agung An Nuur Kota Batu. Kasus infeksi cacing hati mencatatkan tren penurunan signifikan pada Idul Adha tahun ini.

 

BATU, RADAR BATU - Tingkat infeksi parasit patogen pada hewan kurban susut hingga 50 persen pada momen Idul Adha tahun ini. Hal itu diketahui setelah Medik Veteriner Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu melakukan uji sampel lapangan di sejumlah titik kemarin (27/5). 

Medik Veteriner Distan-KP Kota Batu drh. Utami Kurniawati mengatakan dari delapan sampel sapi yang diinspeksi, empat di antaranya masih dinyatakan positif mengidap cacing hati. Sementara itu, 10 sampel kambing diklaim sepenuhnya bersih dari parasit.

BACA JUGA: Anak Muda Wajib Tahu! Batu Punya Banyak Tempat Nongkrong dengan View Alam

“Tahun lalu, hampir semua sapi yang diperiksa positif cacing hati. Penurunan angka hingga 50 persen tahun ini adalah progres yang patut diapresiasi,” papar Utami. Meski trennya menurun, ia tetap mengkritik sebagian peternak yang masih abai memberikan obat anticacing secara rutin setiap enam bulan sekali.

Secara medis, infeksi Fasciola Hepatica atau cacing hati memang tidak bersifat zoonosis atau menular ke manusia. Namun, Utami menegaskan membagikan organ hati yang terinfeksi sangat melanggar standar etika pangan. Bagian tersebut wajib diafkir guna mencegah timbulnya reaksi alergi pada sebagian konsumen.

Sayangnya, penurunan tingkat infeksi tersebut tidak serta-merta menjamin kualitas daging kurban secara mutlak. Utami kini juga menyoroti sindrom stres atau aspek psikologis pada hewan jelang penyembelihan. Pasalnya, Utami mendapati banyak ternak di lokasi penampungan mengalami stres berat.

BACA JUGA: Beda Versi Anggaran MBG, BGN Bantah Pernyataan Purbaya terkait Pemangkasan Dana

Pemicu utamanya adalah polusi suara dan tingginya mobilitas warga atau anak-anak di sekitar area penampungan. Kondisi psikologis ini berdampak langsung pada degradasi kualitas karkas atau bagian tubuh hewan potong. Hewan yang panik sebelum disembelih akan memicu ketegangan otot.

Hasilnya, daging berubah warna menjadi merah kehitaman, bertekstur alot, dan butuh waktu lama untuk dimasak. Sebaliknya, eksekusi yang tenang akan menghasilkan daging segar berwarna merah muda yang empuk dan juicy. Selain manajemen stres, mitigasi risiko penyakit juga menuntut pengetatan biosekuriti lalu lintas ternak.

BACA JUGA: Fenomena “Doom Thinking” pada Siswa, Terbiasa Memikirkan Kemungkinan Terburuk

Hewan kurban dari luar daerah diwajibkan mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Syarat ini menjadi barikade utama untuk mencegah masuknya virus mematikan seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Regulasi ini dikecualikan bagi ternak lokal asal wilayah Batu dan sekitarnya. Pengurusan birokrasi SKKH kini telah dipangkas melalui sistem digital iSIKHNAS. Sayangnya, tingkat literasi digital peternak di lapangan masih menjadi kendala tersendiri. (Ramizard Rafsanjani/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#infeksi cacing hati #pemantauan kondisi fisik hewan ternak #hewan kurban