Pedagang Simpang Patih Panik Dikejar Gusuran, Relokasi Belum Jelas tapi Alat Berat Sudah Bergerak

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 15:00 WIB
JADI SOROTAN: Sejumlah pedagang kawasan Indragiri berdiskusi pascapembongkaran pos polisi di Simpang Patih (Simpang Orchid) beberapa waktu lalu. Nasib relokasi dan sengkarut retribusi kini membayangi para pelaku usaha.
JADI SOROTAN: Sejumlah pedagang kawasan Indragiri berdiskusi pascapembongkaran pos polisi di Simpang Patih (Simpang Orchid) beberapa waktu lalu. Nasib relokasi dan sengkarut retribusi kini membayangi para pelaku usaha.

 

BATU, RADAR BATU - Puluhan pedagang di kawasan Simpang Patih (Simpang Orchid) Kota Batu dilanda kepanikan setelah alat berat mulai melakukan sterilisasi lahan sejak Selasa (26/5).

Ironisnya, hingga pembongkaran dimulai, kepastian relokasi usaha dari Pemkot Batu belum juga diberikan.

Situasi itu membuat para pelaku UMKM merasa ditinggalkan di tengah proyek revitalisasi jalan yang akan dimulai akhir Juni mendatang.

BACA JUGA: Jangan Asal Masak, Ini Cara Aman Konsumsi Daging Kurban agar Kolesterol Tetap Aman

Mujiono, salah satu pedagang asal Desa Pesanggrahan, mengaku syok saat mendengar alat berat mulai merobohkan bangunan di sepanjang Jalan Indragiri.

“Mendengar kabar ada bego datang, saya langsung lari ke sini. Sampai sekarang belum ada kesepakatan soal relokasi,” keluh Mujiono.

Pria yang sudah 20 tahun berjualan di kawasan tersebut mengaku bingung harus memindahkan usahanya ke mana.

BACA JUGA: Tak Hanya Sate dan Gulai, Kuliner Daging di Kota Batu Ini Cocok Jadi Pilihan Saat Idul Adha

Ia menilai proses transisi yang dilakukan pemerintah sangat minim komunikasi. Kecemasan pedagang semakin besar karena mereka juga dibebani persoalan tunggakan retribusi.

Mujiono mengaku lapaknya dikenai tarif sewa hingga Rp 2,7 juta per tahun sejak 2019.

Namun, anjloknya omzet membuat dirinya kesulitan membayar penuh kewajiban tersebut.

BACA JUGA: Bingung Mau Kemana Saat Libur Idul Adha? Tempat Makan View Cantik di Batu Ini Cocok Buat Liburan Keluarga

“Saya tidak berani pinjam bank. Kalau usaha hilang dan masih punya utang, malah tambah hancur,” katanya.

Hal serupa dirasakan Wiwik Kusniati, pemilik Salon Bian yang sudah beroperasi selama satu dekade di kawasan Simpang Patih.

Wiwik menegaskan para pedagang sebenarnya sadar mereka menempati tanah negara dan siap mendukung pembangunan kota.

BACA JUGA: Daging Kurban Menumpuk? Ini Cara Simpan dan Olah Biar Tetap Enak, Awet, dan Anti Alot

Namun, mereka kecewa karena dicitrakan seolah menempati lahan tanpa kontribusi. “Padahal kami rutin bayar retribusi tiap tahun,” ujarnya.

Kekesalan pedagang memuncak karena pemerintah sebelumnya menjanjikan dialog resmi terkait relokasi sebelum pembongkaran dilakukan.

Namun realitas di lapangan berbeda. Alat berat justru bergerak lebih dulu sebelum ada rapat final dengan pedagang.

BACA JUGA: Seputar Kurban Presiden dari APBN, Purbaya Ditanya Gerindra Membela

Kini, para pelaku usaha mendesak Pemkot Batu segera menyetujui usulan relokasi mandiri di lahan tandon air milik Perumda Among Tirto di Jalan Hasanudin.

Bagi mereka, keputusan relokasi tidak bisa terus digantung karena proyek fisik jalan bakal segera memasuki tahap konstruksi penuh dalam waktu dekat. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
Simpang Patih Kota Batu pedagang simpang patih