BATU, RADAR BATU - Kelalaian instalasi kelistrikan dan minimnya kewaspadaan publik memicu rentetan bencana kebakaran di Kota Batu sepanjang awal tahun ini. Damkar Kota Batu mencatat 17 insiden besar melanda wilayah permukiman hingga area publik. Belasan kebakaran itu terjadi dalam rentang waktu bulan Januari hingga April.
Pada Januari lalu, kebakaran menghanguskan satu kandang ternak, satu rumah akibat kebocoran elpiji, dan dua Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Memasuki Februari, giliran dua unit mobil dan satu kandang ayam potong yang terpanggang. Bulan Maret ada satu kebakaran rumah, satu kebakaran kendaraan, hingga dua kebakaran lahan dan kebakaran tiang listrik. Lalu bulan April terpantau tiga kali kebakaran rumah.
BACA JUGA: Enam Calon Sekda Kota Batu Jalani Tes Kesehatan di RSUD Karsa Husada
Pemicu utama petaka tersebut masih didominasi faktor klasik. Kepala Damkar Kota Batu Agung Sedayu mengungkapkan mayoritas kasus bermula dari kegagalan arus pendek atau korsleting listrik. Grafik ancaman ini sejatinya mengekor tren buruk tahun lalu.
Sepanjang 2025, Kota Batu dihantam 55 kasus kebakaran. Sebanyak 27 insiden di antaranya menyasar sektor domestik seperti rumah tinggal dan warung usaha. Sejauh ini, efektivitas penanganan di lapangan diklaim masih terjaga.
BACA JUGA: Selain Bersantai, Ini Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Telaga Madiredo
Petugas mencatat rata-rata waktu respons berada di angka 10 menit untuk menjangkau seluruh titik api. Dari peta kerawanan, sebaran bencana terpantau merata di tiga kecamatan, dengan konsentrasi kasus tertinggi berada di wilayah padat Kecamatan Batu.
Dampak ekonomi dari amukan api ini memukul telak produktivitas warga. Total kerugian material dari tujuh kasus tersebut ditaksir melebihi Rp 1 miliar. Nilai kerugian membengkak akibat hancurnya struktur fisik bangunan gudang serta matinya ribuan komoditas ternak yang terjebak di dalam kandang.
BACA JUGA: Tim Medis Blokir Pasokan Ternak Tanpa SKKH
Kendati angka kerugian sudah tinggi, fase terberat dinilai belum dimulai. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Suwoko menyatakan wilayahnya saat ini masih berada dalam status siaga bencana hidrometeorologi. Fenomena kemarau basah membuat hujan masih turun sesekali.
Hal itu membuat frekuensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mampu ditekan. Kewaspadaan penuh baru akan diberlakukan saat memasuki masa transisi cuaca kering. Suwoko memprediksi puncak risiko kebakaran akan bergeser ke bulan Juni hingga Oktober. (aff/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan