Kontribusi pertanian terus menyusut. Di sisi lain, pariwisata makin melesat. Kota Batu berada di persimpangan identitas ekonomi.
ZANADIA MANIK FATIMAH
DULU, orang mengenal Kota Batu lewat satu kata sederhana, apel. Identitas itu tumbuh, menghidupi, sekaligus membentuk wajah daerah dari kebun-kebun di lereng yang sejuk. Namun dalam beberapa tahun terakhir, identitas tersebut pelan-pelan bergeser. Batu tak lagi semata kota pertanian. Ia bertransformasi menjadi kota wisata.
Satu per satu tanda perubahan itu muncul. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu mencatat kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terus menyusut dalam lima tahun terakhir.
BACA JUGA Sering Memakan Korban, Ini Deretan Kecelakaan yang Pernah Terjadi di Jalur Klemuk Batu
Pada 2021, sektor ini masih menyumbang 15,50 persen. Angka itu turun menjadi 15,18 persen pada 2022, lalu 15,13 persen pada 2023. Tren penurunan berlanjut pada 2024 yakni 14,50 persen, hingga akhirnya tersisa 14,10 persen pada 2025.
“Trennya memang menurun setiap tahun,” terang Herlina Prasetyowati Sambodo, Kepala BPS Kota Batu. Di saat yang sama, sektor lain justru melaju ke arah sebaliknya. Lapangan usaha jasa sektor pariwisata mengalami pertumbuhan yang konsisten.
Dari 14,94 persen pada 2021, naik menjadi 15,21 persen pada 2022, 15,69 persen pada 2023, 16,02 persen pada 2024, hingga mencapai 16,68 persen pada 2025. Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia merekam perubahan arah pembangunan.
Kota Batu tengah bergerak dari sektor primer menuju sektor tersier, dari bertani ke melayani. Secara keseluruhan, struktur ekonomi Kota Batu kini didominasi sektor perdagangan besar dan eceran dengan kontribusi 18,69 persen.
Disusul sektor jasa lainnya sebesar 16,68 persen. Di tengah komposisi itu, pertanian menjadi sektor yang paling terasa kehilangan peran. “Kondisi ini menunjukkan adanya transformasi ekonomi,” imbuh Herlina.
Transformasi, bagi sebagian pihak, adalah keniscayaan. Namun, bagi yang lain, ia juga menyimpan kekhawatiran. Sosiolog Pedesaan Universitas Brawijaya (UB) Arief Budi Nugroho melihat perubahan ini tak boleh dibiarkan berjalan tanpa kendali.
Menurutnya, pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan bagian dari identitas dan keseimbangan ekologis Kota Batu. “Pertanian yang ada seharusnya tetap dipertahankan,” tegasnya.
Ia menyoroti alih fungsi lahan yang kian masif. Lahan-lahan pertanian produktif mulai beralih menjadi kawasan wisata dengan luasan yang tak lagi kecil. Beberapa tahun terkahir alih fungsi lahan mencapai belasan hingga puluhan hektare.
BACA JUGA Masuk Proyek Strategis Kota Batu, Apel Gratis Dapat Suntikan Rp2 Miliar
Bagi Arief, persoalannya bukan semata pembangunan, melainkan cara pembangunan itu dijalankan. Banyak proyek wisata, menurutnya, dibangun tanpa kajian ekologis yang memadai. “Sering kali yang penting wisata. Padahal, lahannya belum tentu aman,” ujarnya.
Dampaknya mulai terasa. Kota Batu belakangan kerap dihadapkan pada bencana hidrometeorologi seperti longsor, banjir, hingga luapan sungai. Peristiwa-peristiwa itu punya relasi kuat dengan perubahan tata guna lahan yang kurang terkendali.
Di sisi lain, persoalan lama di sektor pertanian juga belum sepenuhnya tuntas. Penggunaan pupuk kimia berlebihan, misalnya, telah menurunkan kualitas tanah di sejumlah wilayah. Lahan yang dulu subur, kini membutuhkan upaya pemulihan.
“Pemulihan lahan seharusnya jadi prioritas,” imbuhnya. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam setiap keputusan pembangunan. Lahan produktif, menurutnya, semestinya tetap difungsikan untuk pertanian atau penghijauan.
“Tidak bisa membangun di atas tanah subur tanpa pertimbangan,” tegasnya. Di titik inilah Kota Batu berada sekarang, yakni di persimpangan antara ambisi pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan menjaga keseimbangan alam.
Pariwisata memang menjanjikan nilai tambah yang lebih besar. Namun jika tanpa kendali, maka ia juga berpotensi menggerus fondasi lama yang selama ini menopang kehidupan. Pertanyaannya sejauh mana Kota Batu mampu untuk tetap tumbuh tanpa kehilangan akar.
Editor : Fajar Andre Setiawan