Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (17): Menyalakan Harapan lewat Laboratorium

Zanadia Manik Fatimah • Dipublikasikan Rabu, 15 April 2026 | 09:30 WIB
Anak-Anak Muda di Desa Sumberbrantas Membangun Laboratorium Swadaya kemarin (14/4)
Anak-Anak Muda di Desa Sumberbrantas Membangun Laboratorium Swadaya kemarin (14/4)

 

Di tengah laju alih fungsi lahan dan cuaca yang makin sulit ditebak, anak-anak muda di Desa Sumberbrantas membangun laboratorium swadaya. Dari ruangan sederhana itu mereka merawat harapan bahwa teknologi masih bisa memperpanjang napas sektor pertanian.

ZANADIA MANIK FATIMAH

Dari luar laboratorium pertanian di Desa Sumberbrantas, bangunannya tampak sederhana. Namun dari ruang-ruang kecil ini, anak-anak muda di Kecamatan Bumiaji terus mencoba memperpanjang napas pertanian lokal.

Empat ruangan hening berjajar rapi dengan fungsi berbeda-beda. Ada ruang persiapan media tanam, ruang penyimpanan alat dan bahan, ruang inkubasi, serta ruang produksi. Semuanya bekerja seperti mata rantai. Kecil, tapi penting.

Fokus utama laboratorium itu adalah kentang. Komoditas yang selama ini menjadi denyut pertanian dataran tinggi Sumberbrantas. Dari tunas tanaman induk, benih diperbanyak melalui teknik kultur jaringan. Prosesnya telaten dan steril. Menuntut kesabaran panjang.

BACA JUGA WFH Perusahaan di Batu Tak Boleh Pangkas Gaji, Disnaker Tegaskan Hak Pekerja Harus Utuh

Bagi para pemuda Taruna Tani Abinaya, teknologi bukan gaya-gayaan. Ini soal bertahan hidup. Saat lahan menyusut dan iklim makin sulit dibaca, mereka sadar pertanian tak lagi cukup disangga cara-cara lama.

Produktivitas harus dijaga. Mutu benih harus diperbaiki. Risiko penyakit harus ditekan. Di ruang produksi, sterilitas dijaga ketat. Autoklaf bekerja mensterilkan alat dan media dengan uap bertekanan tinggi.

Laminar air flow menyaring udara agar proses kultur tetap bersih dari kontaminasi. Untuk sementara, hanya satu orang yang diperkenankan masuk ke ruang ini. Dialah Yosia Abner Bezaleel, koordinator laboratorium pertanian Taruna Tani Abinaya.

BACA JUGA Kadinkes Batu Pilih Tak Mendaftar Jadi Sekda meski Jadi Kandidat Terkuat, Persaingan Mengerucut ke Tiga Nama Kuat

Di usia 25 tahun, Yosia memikul pekerjaan yang biasanya identik dengan lembaga riset atau perusahaan besar. Ia mengawasi proses perbanyakan benih dari tahap paling awal. Satu kesalahan kecil bisa menggagalkan seluruh proses.

Karena itu, ritme kerja di laboratorium nyaris seperti ritual, yakni cermat, lambat, dan tak boleh ceroboh. “Tahun ini kami juga mulai merambah penyusunan protokol untuk tanaman hias,” kata Yosia.

Namun, ia tak menutup fakta bahwa laboratorium itu masih bertumpu pada kentang. Sejak tahun lalu, komoditas itu menjadi fokus utama. Alasannya jelas, yakni komoditas tersebut yang paling banyak digarap petani Sumberbrantas.

Mereka membutuhkan benih kentang yang sehat dan kuat. Dari situlah mereka memulai.

Indukan yang dipakai berasal dari varietas granola kembang. Namun, tidak semua indukan diterima. Mereka memilih yang punya ketahanan lebih baik terhadap penyakit.

BACA JUGA 226 CJH Asal Kota Batu Siap Berangkat 22 April

Dari laboratorium, bibit lalu masuk tahap pembesaran di greenhouse. Itu dilakukan sebelum akhirnya benar-benar siap ditanam di lahan terbuka. Seluruh proses itu memakan waktu sekitar delapan bulan. Tentu itu bukan waktu yang singkat.

Bagi Yosia dan kawan-kawannya, itulah harga yang harus dibayar untuk menghasilkan benih yang lebih terjamin. Setelah masuk lahan, kentang umumnya bisa dipanen sekitar 120 hari kemudian.

Hasilnya membuat mereka percaya diri. Umbi kentang yang tumbuh disebut lebih besar dibanding granola kembang pada umumnya. Yosia menggambarkannya dengan cara sederhana. “Besarnya bisa satu kepalan tangan orang dewasa,” ujarnya dengan mata binar.

Setelah keluar dari laboratorium, bibit kentang tidak langsung dihadapkan pada kerasnya alam terbuka. Ada tahap transisi yang tak kalah penting di greenhouse. Tempat ini menjadi ruang adaptasi awal. Bibit dibiasakan dengan lingkungan yang dinamis tapi terkendali.

Di greenhouse itu, teknologi kembali mengambil peran. Suhu dipantau. Kelembapan dijaga. Sistem penyiraman bisa bekerja otomatis saat kondisi tertentu terdeteksi. Embun buatan diciptakan bila diperlukan. Semua dirancang agar bibit tidak stres saat berpindah fase.

Bagi kelompok ini, smart farming bukan istilah mewah yang hanya cocok dipamerkan dalam seminar. Di lereng pertanian yang terus terdesak pembangunan, teknologi mereka pahami sebagai alat untuk mengurangi kerentanan.

Bagi mereka teknologi sama sekali bukan untuk menggantikan petani, melainkan memperkuat daya tahan mereka. Pilihan itu juga lahir dari pengalaman pahit. Laboratorium ini sempat vakum saat pandemi Covid-19. Aktivitas berhenti. Energi kelompok merosot.

Namun sesudah masa sulit itu lewat, mereka memilih menyalakan ulang semuanya dari awal. Sedikit demi sedikit. Perjalanan mereka tidak mulus. Di awal, para pemuda ini kerap dipandang sebelah mata. Usia muda dianggap identik dengan minim pengalaman.

Apalagi mereka datang dengan pendekatan yang tidak lazim bagi sebagian petani. Laboratorium, kultur jaringan, dan teknologi kontrol lingkungan tentu hal asing bagi sebagian petani tradisional.

Keraguan itu pelan-pelan surut ketika hasil mulai bicara. Bibit yang mereka kembangkan terbukti memberi hasil yang memuaskan. Dari sana, kepercayaan petani tumbuh. Tidak meledak, tapi merambat pasti.

Di titik itu, laboratorium kecil ini menjadi lebih dari sekadar ruang produksi benih. Ia menjelma simbol perlawanan generasi muda terhadap anggapan lama bahwa bertani tidak menjanjikan masa depan.

Di Sumberbrantas, anak-anak muda itu justru menunjukkan sebaliknya. Pertanian bisa maju jika ilmu pengetahuan diberi ruang tumbuh. Tetap saja, tantangannya belum selesai. Laboratorium swadaya seperti ini bekerja dengan kemampuan terbatas.

Skala produksinya belum besar. Kebutuhan petani jauh lebih luas. Ancaman utama di luar sana tidak pernah benar-benar pergi, yakni penyusutan lahan, biaya produksi, serta ketidakpastian iklim.

Ketua Taruna Tani Abinaya Ramadhan Ragil mengatakan pemerintah kota memberi apresiasi terhadap inisiatif itu. Bahkan, muncul dorongan untuk membangun laboratorium pertanian yang lebih besar di Kota Batu.

Rencananya, fasilitas baru akan dibangun di tanah kas Desa Sumberbrantas seluas sekitar 1.500 meter persegi. Nilai anggarannya diperkirakan mencapai Rp2 miliar. Laboratorium baru itu diproyeksikan menjadi pusat inovasi pertanian yang lebih kuat.

Ke depan, laboratorium tidak hanya fokus untuk kentang, tetapi juga untuk pengembangan komoditas lokal lain yang relevan dengan kebutuhan petani Kota Batu. Rencana itu tentu menjanjikan, tapi ujian sesungguhnya selalu terletak pada keberlanjutan.

Apakah dukungan itu benar-benar diwujudkan. Apakah fasilitas baru nanti bisa diakses petani. Apakah inovasi tidak berhenti sebagai etalase proyek. Taruna Tani Abinaya tampaknya paham betul soal itu.

Karena itulah, sebelum laboratorium baru benar-benar berdiri, mereka mulai menyiapkan proyek-proyek lain sejak sekarang. Tanaman hias masuk dalam pengembangan. Komoditas baru dicoba. Mereka tak ingin ruang yang lebih besar nanti berdiri tanpa isi.

Dari laboratorium kecil di desa paling dingin di Kota Batu itu, mereka sedang merawat sesuatu yang lebih besar dari sekadar benih. Mereka merawat keyakinan bahwa pertanian belum habis. 

Di tengah gempuran alih fungsi lahan, masih ada anak-anak muda yang memilih menekuni tanah, ilmu, dan masa depan sekaligus. Dari tempat seperti inilah harapan baru pertanian Kota Batu sedang disemai pelan, senyap, tapi serius. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
alih fungsi lahan seri pertanian pertanian kota batu