BATU - Rentetan bencana kembali menghantui Kota Batu. Sepanjang Maret, sedikitnya lima kejadian banjir luapan dan tanah longsor terjadi di sejumlah wilayah.
Kondisi ini menjadi alarm keras atas krisis daerah tangkapan air yang kian parah. Alih fungsi lahan yang tak terkendali disebut sebagai penyebab utama rusaknya fungsi ekologis di kawasan hulu.
Wali Kota Batu Nurochman menegaskan, perubahan bentang alam tersebut ibarat bom waktu yang mengancam keselamatan warga.
BACA JUGA: Emak-Emak Ramai Live Streaming Zumba di CFD Mbatu Sae Kota Batu
“Isunya tetap alih fungsi lahan. Tidak hanya pembangunan, tapi juga tata lahan,” ujarnya.
Menurutnya, tren peralihan tanaman dari apel ke hortikultura turut memperparah kondisi.
Tanaman sayuran dinilai tidak memiliki akar kuat dan tajuk yang mampu menahan laju air hujan. Akibatnya, air langsung mengalir deras ke permukiman tanpa hambatan alami.
Kondisi semakin diperburuk dengan hilangnya sistem konservasi terasering yang digantikan metode gulutan atau parit searah lereng.
BACA JUGA: Long Weekend, Kunjungan Wisata ke Kota Batu Naik 20 Persen
Sistem ini justru mempercepat aliran air dan memicu erosi. “Kalau hujan, air langsung tumpah dan memicu erosi hebat,” tambahnya.
Tak hanya itu, praktik penebangan pohon di lahan tegalan demi mempercepat panen sayuran juga menjadi sorotan.
Padahal, kawasan hutan memiliki aturan ketat yang melarang penebangan liar. Cak Nur, sapaan akrab Nurochman, mengingatkan agar kepentingan ekonomi jangka pendek tidak mengorbankan keselamatan warga di wilayah bawah.
BACA JUGA: Penertiban Mandek, PKL Liar Alun-Alun Kota Wisata Batu Makin Membandel
Di sisi lain, pembangunan sektor wisata di Kecamatan Bumiaji juga ikut disorot. Ia meminta investor tidak menggarap zona hijau yang memiliki fungsi resapan air.
“Harus ada komitmen. Tidak semua lahan bisa dibangun,” tegasnya. Saat ini, Pemkot Batu tengah memetakan titik-titik kritis alih fungsi lahan untuk menentukan langkah penanganan jangka pendek dan panjang.
Upaya ini diharapkan mampu mengembalikan fungsi resapan air yang kian menyusut, sekaligus menekan risiko bencana di masa mendatang. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan