Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (7): Dulu Jadi Ikon Kota Kini Ditinggalkan Petani

Rori Dinanda Bestari • Minggu, 5 April 2026 | 09:30 WIB
IKONIK: Salah seorang wisatawan memetik apel di salah satu lahan di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu. RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU
IKONIK: Salah seorang wisatawan memetik apel di salah satu lahan di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu. RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU

 Luas kebun apel di Kota Batu terus menyusut. Biaya tinggi, produktivitas menurun, dan tekanan pasar membuat petani mulai meninggalkan komoditas legendaris ini. Apel lokal perlahan kalah bersaing, bahkan di tanahnya sendiri.

RORI DINANDA BESTARI

Pohon apel dulu tumbuh di hampir setiap sudut Kota Batu. Halaman rumah, lereng bukit, hingga kebun luas dipenuhi tajuk hijau yang rimbun. Aroma buah matang menjadi bagian dari keseharian.

Kini, pemandangan itu mulai menghilang. Pohon-pohon ditebang dan sebagian dibiarkan mati. Sebagian sisanya berganti tanaman lain. Data menunjukkan penurunan yang tajam. Pada 2020, luas kebun apel masih sekitar 1.200 hektare.

Dua tahun kemudian menyusut menjadi 1.092 hektare. Angka itu terus turun. Pada 2023 tersisa 1.044 hektare. Tahun berikutnya anjlok menjadi 900 hektare. Kini, luasnya hanya tersisa sekitar 740 hektare.

BACA JUGA Talang Air Pasar Induk Among Tani Kota Batu Rusak Lagi, Pemkot Tagih Garansi

Penyusutan ini bukan sekadar angka. Ia menggambarkan perubahan besar. Apel tidak lagi menjadi pilihan utama. Di beberapa lokasi, kebun dibiarkan terbengkalai. Daun meranggas dan batang mengering.

Sebagian lahan bahkan dijual. Jejak kejayaan apel mulai pudar. Di Desa Tulungrejo, sisa-sisa itu masih bertahan. Namun tekanannya semakin kuat. Bagi petani, apel bukan sekadar komoditas. Ia adalah warisan. Namun warisan itu kini sulit dipertahankan.

Biaya produksi terus naik. Harga jual justru stagnan. Utomo merasakan perubahan itu. Ketua kelompok tani itu menyebut kondisi sekarang jauh berbeda. Dulu, wilayahnya memiliki sekitar 1.000 hektare kebun apel. Kini hanya tersisa sekitar 300 hektare.

“Hasil panen tidak lagi menutup biaya produksi,” ujarnya. Harga apel di tingkat petani kini sekitar Rp8 ribu per kilogram. Angka ini lebih rendah dari beberapa tahun lalu. Margin keuntungan semakin tipis. Dalam banyak kasus, petani hanya balik modal.

BACA JUGA Jumat Agung di Kota Batu, OMK Hidupkan Jalan Salib di Ruang Terbuka

Masalah lain datang dari distribusi pupuk. Skema subsidi dinilai tidak tepat sasaran. Ada petani yang tidak lagi menanam apel, tetapi tetap menerima jatah. Sementara yang masih bertahan justru kekurangan.

Ketimpangan ini memperberat kondisi. Di tengah tekanan itu, banyak petani menyerah.

Dwi adalah salah satunya. Selama lebih dari 40 tahun, ia hidup dari apel. Kini, ia harus menebang pohon-pohon tuanya. Bukan karena ingin, melainkan karena terpaksa.

“Biaya tinggi, hasil sedikit, harga tidak pasti,” katanya. Cuaca juga memperburuk keadaan. Pohon tua semakin rentan penyakit. Produktivitas terus menurun. Jika dipaksakan, kerugian justru membesar. Dwi memilih beralih ke tanaman sayur.

Keputusan ini dianggap lebih realistis karena komoditas itu cepat panen dan lebih pasti hasilnya. Petani mulai meninggalkan apel. Komoditas lain dianggap lebih menjanjikan. Dalam waktu yang sama, pasar juga berubah.

BACA JUGA Kandang Babi di Permukiman Dinilai Langgar Aturan, Pakar Desak Pemerintah Melakukan Penindakan

Apel impor semakin mudah masuk karena harganya lebih kompetitif dan kualitasnya seragam. Tekanan terhadap apel lokal semakin kuat. Di pasar, apel Batu tidak lagi dominan. Ia harus bersaing di kandangnya sendiri.

Situasi ini mempersempit ruang hidup petani. Tanpa intervensi, tren ini akan berlanjut. Petani membutuhkan kepastian harga yang stabil, distribusi pupuk yang adil, serta dukungan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.

Tanpa itu, apel akan terus ditinggalkan dan Kota Batu akan kehilangan lebih dari sekadar komoditas. Ia kehilangan identitasnya sebagai kota apel. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
#alih fungsi lahan #apel batu #kebun apel batu