85 Persen Lulusan SMK Langsung Kerja, Sebagian Sudah Dipesan Industri Sebelum Lulus

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi: Siswa SMK (Foto: Pixels)
Ilustrasi: Siswa SMK (Foto: Pixels)

BATU, RADAR BATU - Sekitar 85 persen lulusan SMK di Kota Batu tercatat langsung bekerja atau berwirausaha setelah lulus. Berdasarkan data tracer study Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), 10 persen lulusan melanjutkan pendidikan. Sedangkan, 5 persen lainnya masih menunggu lowongan atau penempatan kerja. Tingginya serapan itu ditopang pembelajaran yang semakin disesuaikan dengan kebutuhan industri.

Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Kerja Disnaker Kota Batu Hartini mengatakan sektor yang paling banyak menyerap lulusan SMK berada pada bidang pariwisata dan agribisnis. Di antaranya hospitality, perhotelan, tata boga, hingga pengolahan hasil pertanian. “Untuk penyerapan secara persentase, sebanyak 85 persen lulusan SMK tercatat sudah bekerja dan berwirausaha,” ujarnya.

Meski demikian, angka tersebut tidak seluruhnya menunjukkan lulusan masuk pekerjaan formal. Sebagian memilih membangun usaha sendiri. Mereka memanfaatkan keterampilan dan potensi ekonomi di Kota Batu. Hartini menyebut 10 persen lulusan melanjutkan pendidikan. Sementara, sekitar 5 persen masih menunggu lowongan atau penempatan kerja.

Baca Juga: Karhutla Gunung Butak dan Kawinajang Padam, Perhutani Mulai Telusuri Penyebab - Radar Batu

Data itu jadi gambaran mayoritas lulusan memilih segera masuk pasar kerja dibandingkan menunda aktivitas ekonomi. Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Negeri Kota Batu Kolikul Huda menilai tingkat serapan masih bisa ditingkatkan. Salah satu kuncinya adalah memperkuat hubungan antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Sekolah mulai didorong membangun kelas industri. Materi dan praktiknya disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Model tersebut membuat siswa tidak hanya belajar teori. Namun, memperoleh pengalaman kerja dengan standar industri. “Misalnya di SMKN 3 Batu ada dua kelas industri yang fokusnya lebih mengarah ke kesiapan kerja,” katanya.

Porsi praktik dalam kelas industri diperbanyak. Sejumlah materi bahkan disampaikan langsung oleh praktisi dari perusahaan. Pada semester akhir, siswa dapat mengikuti proses seleksi industri sebelum resmi menyelesaikan pendidikan. Skema tersebut membuat sebagian siswa berpeluang memperoleh pekerjaan bahkan sebelum dinyatakan lulus.

Baca Juga: Ingin Nonton Naykilla Hingga Vierratale secara Gratis? Konser Pita Kita Lagi Bagi-Bagi Tiket - Radar Batu

Perusahaan dapat menilai kemampuan siswa selama proses pembelajaran. Dalam waktu yang sama itu bisa mengurangi waktu adaptasi ketika mereka masuk kerja. Program praktik kerja industri atau magang juga menjadi jalur penting. Selama magang, perusahaan dapat melihat kemampuan, kedisiplinan, serta kecocokan siswa dengan kebutuhan pekerjaan.

“Saat magang, perusahaan sekaligus menilai kemampuan siswa, sehingga mereka langsung mendapat tawaran kerja setelah masa magang usai,” jelas Kolik. Namun, penyerapan lulusan tidak harus selalu melalui perusahaan. Sebagian alumni memilih berwirausaha dengan memanfaatkan keterampilan yang didapat di sekolah atau usaha keluarga.

Kondisi itu cukup relevan dengan karakter ekonomi Kota Batu yang ditopang pariwisata, pertanian, dan usaha jasa. Lulusan dengan kompetensi tata boga, perhotelan, atau bidang agribisnis memiliki ruang untuk bekerja sekaligus mengembangkan usaha sendiri.

Baca Juga: Cuaca Kota Batu Hari Ini, 12 September 2026. Basah di Dini Hari, Cerah Berawan Jelang Tengah Hari - Radar Batu

Kolik berharap pola pembelajaran tersebut terus diperkuat. Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah. Namun, harus memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan pasar.

Di sisi lain, Disnaker juga diminta membuat program pelatihan yang lebih spesifik. Pelatihan harus disusun berdasarkan kebutuhan kompetensi sekolah dan industri. Tujuannya agar kompetensi peserta didik tidak berhenti pada keterampilan umum.

Menurut Kolik, beberapa pelatihan seperti digital marketing dan pengemasan produk belum selalu sesuai dengan kebutuhan setiap kompetensi keahlian. Terutama sekolah yang lebih fokus pada industri kreatif.

Baca Juga: Karhutla Gunung Butak dan Kawinajang Padam, Perhutani Mulai Telusuri Penyebab - Radar Batu

Karena itu, sinkronisasi antara pemerintah, sekolah, dan dunia industri menjadi penting. Kebutuhan tenaga kerja perlu dipetakan sejak awal. Dengan begitu, sekolah dapat menyesuaikan kurikulum. Sementara, perusahaan memperoleh tenaga yang lebih siap.

Tingginya angka serapan lulusan SMK Kota Batu menjadi modal positif. Namun, tantangannya bukan sekadar mempertahankan angka 85 persen. Sekolah juga harus memastikan lulusan memperoleh pekerjaan yang sesuai kompetensi, memiliki peluang berkembang, dan mampu bertahan di tengah perubahan kebutuhan industri.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Anak SMK Bekerja Berwirausaha smk lulusan smk