BATU, RADAR BATU – Di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk merangkum materi, mencatat dengan tangan terbukti masih lebih unggul. Aktivitas ini dinilai jauh lebih efektif dalam mempertajam memori dan pemahaman kognitif pelajar dibanding mengetik dengan laptop.
Proses Kognitif Lebih Dalam
Penelitian sains psikologi oleh Mueller dan Oppenheimer mengungkapkan bahwa mengetik menggunakan laptop cenderung hanya mencatat kata per kata secara mekanis. Sebaliknya, keterbatasan kecepatan menulis manual memaksa pelajar memilih dan meringkas informasi secara aktif.
Baca Juga: Mudah Terkecoh Informasi Palsu? Ini Cara Efektif Melatih Berpikir Kritis Menurut Riset
Proses menyaring informasi tersebut memicu perubahan data dari satu format ke format lainnya. Akibatnya, otak bekerja lebih keras memahami materi sejak awal sehingga menghasilkan pemahaman konseptual jangka panjang yang kuat.
Koneksi Sensorimotor Otak
Data terbaru dari Norwegian University of Science and Technology 2024 turut memperkuat temuan tersebut melalui pemantauan sensor EEG. Penelitian itu menunjukkan bahwa gerakan halus tangan saat membentuk huruf mengaktifkan pola konektivitas otak yang kompleks di area sensorimotor.
Aktivitas saraf ini tidak ditemukan saat seseorang mengetik karena menekan tombol keyboard hanya melibatkan satu gerakan repetitif yang sama. Keterlibatan visual dan motorik saat menulis tangan akhirnya menciptakan jejak memori yang lebih sulit dilupakan oleh otak.
Baca Juga: Ini Alasan Buku Fiksi Bisa Mengasah Empati Siswa
Filter Informasi Digital
Mencatat manual juga berfungsi sebagai filter efektif terhadap banyaknya informasi yang masuk di era digital. Melalui minimalisasi gangguan notifikasi perangkat, pelajar dapat melakukan proses mendalam terhadap data yang dihasilkan oleh AI.
Penggunaan kertas fisik juga memberikan kebebasan bagi pelajar untuk membuat pemetaan visual guna meningkatkan kreativitas. Oleh karena itu, mencatat dengan tangan menjadi kegiatan penting yang perlu terus dilakukan demi menjaga ketajaman kognitif manusia di tengah arus teknologi yang serba instan.
Editor : Aditya Novrian