Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Komnas PA Soroti Putus Sekolah dan Nikah Muda di Kota Batu, Faktor Ekonomi Jadi Pemicu Anak Bekerja

Rori Dinanda Bestari • Kamis, 18 Juni 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi pernikahan. (freepik.com)
Ilustrasi pernikahan. (freepik.com)

 

BATU, RADAR BATU - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Batu menyoroti masih kuatnya praktik putus sekolah dan pernikahan usia muda yang berdampak pada meningkatnya jumlah pekerja anak di wilayah tersebut.

Ketua Komnas PA Kota Batu, Rudianto, mengatakan banyak lulusan SMP yang tidak melanjutkan pendidikan karena terbentur kondisi ekonomi keluarga maupun rendahnya motivasi untuk kembali bersekolah.

BACA JUGA: Konsumsi Pertamax di Salah Satu SPBU Kota Batu Anjlok di Angka 5.900 Liter Per Hari

“Untuk anak laki-laki, banyak yang langsung diarahkan membantu pekerjaan keluarga, seperti mengurus ternak atau bekerja di sektor informal,” ujarnya.

Sementara itu, pada anak perempuan masih ditemukan budaya menikah di usia muda yang dianggap sebagai hal biasa di sejumlah lingkungan masyarakat. Kondisi tersebut membuat kesempatan melanjutkan pendidikan menjadi semakin terbatas.

Menurut Rudianto, tekanan ekonomi sering kali memaksa keluarga mengambil keputusan sulit, termasuk meminta salah satu anak bekerja agar dapat membiayai pendidikan saudara kandung lainnya.

BACA JUGA: Balai Kota Among Tani Jadi Pusat Nobar Piala Dunia 2026, Pemkot Batu Pilih Laga Favorit

“Ada keluarga yang mengorbankan masa depan satu anak untuk bekerja keras demi menyekolahkan saudaranya yang lain,” katanya.

Di lapangan, anak-anak diketahui bekerja di berbagai sektor seperti peternakan, pertanian, penjaga vila, hingga buruh bangunan. Meski sebagian hanya membantu pekerjaan keluarga, tidak sedikit yang akhirnya meninggalkan sekolah karena harus bekerja secara penuh.

BACA JUGA: Boarding School di Kota Batu Jadi Incaran Nasional, Pendaftar Datang dari Sumatera hingga Papua

Rudianto menegaskan bahwa perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan regulasi. Kesadaran orang tua dan lingkungan sekitar tetap menjadi benteng utama untuk memastikan anak memperoleh hak atas pendidikan dan tumbuh kembang yang layak.

Ia berharap berbagai pihak dapat memperkuat upaya pencegahan putus sekolah dan memberikan dukungan ekonomi kepada keluarga rentan agar anak-anak tidak terdorong memasuki dunia kerja sebelum waktunya. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#pekerja anak #nikah muda #putus sekolah