BATU, RADAR BATU – Dalam dunia perguruan tinggi, mahasiswa akan mengenal berbagai bentuk tugas akhir sesuai jenjang pendidikan yang ditempuh. Mulai dari skripsi untuk program sarjana, tesis untuk program magister, hingga disertasi pada jenjang doktoral.
Meski sama-sama merupakan karya ilmiah yang menjadi syarat kelulusan, ketiganya memiliki perbedaan dari sisi tingkat kesulitan, kedalaman penelitian, hingga tujuan akademiknya. Setiap tugas akhir memiliki karakteristik yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan mahasiswa.
Skripsi untuk Mahasiswa Sarjana (S1)
Skripsi merupakan tugas akhir yang wajib disusun oleh mahasiswa program sarjana atau S1 sebagai syarat memperoleh gelar akademik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karya tulis ilmiah yang menjadi bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademis.
Menurut laman Universitas Prasetiya Mulya, tujuan penyusunan skripsi adalah melatih mahasiswa mengembangkan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan melalui penelitian ilmiah. Melalui proses ini, mahasiswa belajar menganalisis, membandingkan, dan menjelaskan suatu fenomena berdasarkan data yang diperoleh.
Baca Juga: Apa Itu Portofolio? Ini Fungsi dan Jurusan yang Membutuhkannya
Topik penelitian dalam skripsi umumnya bersumber dari masalah empiris yang relatif sederhana dan masih berada dalam lingkup dasar keilmuan. Karena itu, bimbingan dosen biasanya dilakukan secara lebih intensif untuk membantu mahasiswa menyelesaikan penelitiannya.
Tesis Menuntut Analisis yang Lebih Mendalam
Berbeda dengan skripsi, tesis merupakan tugas akhir yang disusun oleh mahasiswa program magister atau S2. Tingkat kesulitan tesis lebih tinggi karena penelitian yang dilakukan harus menghasilkan kajian yang lebih mendalam dan kritis terhadap suatu persoalan akademik.
Dilansir dari laman Ubhara Jaya, tesis menuntut mahasiswa untuk menyusun karya ilmiah berdasarkan penelitian empiris yang lebih kompleks. Mahasiswa tidak hanya menjelaskan suatu fenomena, tetapi juga harus mampu mengembangkan argumentasi ilmiah yang kuat dan memberikan kontribusi terhadap pengembangan pengetahuan di bidangnya.
Dalam penyusunannya, mahasiswa S2 dituntut lebih mandiri dibandingkan mahasiswa S1. Analisis yang digunakan biasanya lebih mendalam dengan cakupan penelitian yang lebih luas serta penggunaan metode penelitian yang lebih kompleks.
Baca Juga: Apa Itu MBKM? Ini Penjelasan dan Program yang Bisa Diikuti Mahasiswa
Disertasi untuk Menghasilkan Temuan Baru
Pada jenjang doktoral atau S3, mahasiswa diwajibkan menyusun disertasi sebagai syarat memperoleh gelar doktor. Disertasi merupakan bentuk karya ilmiah dengan tingkat kesulitan tertinggi dibandingkan skripsi maupun tesis. Disertasi mengharuskan mahasiswa melakukan penelitian yang mampu menghasilkan temuan, konsep, atau pengembangan teori baru yang memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Mengutip Pusat Pelatihan dan Pendidikan Kemendikbudristek bahwa disertasi juga diharapkan memiliki dampak yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Selain berbeda pada tingkat kedalaman penelitian, perbedaan lain juga terlihat pada tingkat orisinalitas. Jika skripsi masih memungkinkan melakukan replikasi penelitian dengan objek berbeda, tesis lebih menekankan unsur kebaruan, sedangkan disertasi wajib menawarkan kontribusi ilmiah yang benar-benar orisinal.
Editor : Aditya Novrian