BATU, RADAR BATU – Menyusun Kartu Rencana Studi (KRS) menjadi salah satu hal yang harus dipahami mahasiswa baru sejak awal perkuliahan. Tidak sedikit mahasiswa yang tergoda mengambil SKS sebanyak mungkin agar bisa lulus lebih cepat. Padahal, jumlah SKS yang terlalu banyak tanpa perencanaan yang matang justru dapat membuat tugas menumpuk, nilai menurun, hingga memicu kelelahan akademik. Pengambilan SKS sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan belajar, aktivitas di luar kuliah, serta target akademik yang ingin dicapai.
Sesuaikan Jumlah SKS dengan Kemampuan Diri
SKS atau Sistem Kredit Semester merupakan satuan yang digunakan perguruan tinggi untuk mengukur beban studi mahasiswa. Secara umum, mahasiswa mengambil sekitar 18 hingga 24 SKS dalam satu semester. Meski demikian, jumlah maksimal SKS tidak selalu harus diambil seluruhnya. Mahasiswa yang aktif berorganisasi, bekerja paruh waktu, mengikuti penelitian, atau memiliki kegiatan lain di luar kampus perlu mempertimbangkan kemampuan membagi waktu sebelum menentukan jumlah mata kuliah yang akan diambil.
Baca Juga: Apa Itu IPK, IPS, dan Transkrip Nilai? Ini Perbedaannya
Dari laman Ma’soem University, mengambil terlalu banyak SKS dapat membuat mahasiswa kewalahan menghadapi tugas, praktikum, maupun ujian. Sebaliknya, memilih jumlah SKS yang sesuai kapasitas dapat membantu menjaga fokus belajar dan memperoleh hasil akademik yang lebih optimal.
Prioritaskan Mata Kuliah Wajib dan Prasyarat
Selain mempertimbangkan jumlah SKS, mahasiswa juga perlu memperhatikan jenis mata kuliah yang akan diambil. Dilansir dari eduNitas, mata kuliah wajib dan mata kuliah prasyarat sebaiknya menjadi prioritas utama dalam penyusunan KRS.
Beberapa mata kuliah hanya dapat diambil jika mahasiswa telah lulus mata kuliah tertentu pada semester sebelumnya. Jika mata kuliah prasyarat tertunda, proses studi juga berpotensi ikut terhambat.
Karena itu, mahasiswa disarankan menyusun rencana studi sejak awal dengan mempertimbangkan alur kurikulum. Setelah mata kuliah wajib terpenuhi, mahasiswa dapat memilih mata kuliah pilihan yang mendukung minat, bakat, maupun rencana karier di masa depan.
Baca Juga: Apa Itu MBKM? Ini Penjelasan dan Program yang Bisa Diikuti Mahasiswa
Manfaatkan Konsultasi Akademik dan Jaga Keseimbangan
Mahasiswa baru sering kali belum memahami strategi pengambilan SKS yang tepat. Oleh sebab itu, dosen pembimbing akademik dapat menjadi tempat konsultasi sebelum mengisi KRS setiap semester.
Dosen pembimbing dapat membantu mahasiswa menentukan beban studi yang sesuai, mengevaluasi hasil belajar semester sebelumnya, serta memberikan arahan terkait target akademik yang ingin dicapai.
Selain itu, mahasiswa juga perlu menjaga keseimbangan antara kegiatan akademik dan nonakademik. Jadwal kuliah yang terlalu padat tanpa jeda dapat menyebabkan kelelahan dan menurunkan produktivitas belajar.
Editor : Aditya Novrian